IBIE's BLOG        GALERY BACA



Jan 23, 2006
Keutamaan Bangun Pagi

Berhati-hatilah dari terpaan rasa kantuk dan berusahalah tidak tdur pada ruas waktu setelah Subuh hingga terbitnya matahari.  Para salafushalih sangat tidak menyukai tidur pada waktu itu.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan Di antara tidur yang tidak disukai menurut mereka ialah tidur diantara shalat subuh dan terbit matahari, karena ini merupakan waktu untuk memperoleh hasil bagi perjalanan ruhani, pada saat itu terdapat keistimewaan besar, sehingga  seadainya mereka melakukan perjalanan (kegiatan) semalam suntuk pun, belum tentu dapat menandinginya.

Duduklah berzikir setelah subuh hingga matahari terbit adalah sunnah.  Dari Abu Umamah Ra dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda Barangsiapa  yang sholat subuh berjamaan kemudian duduk berzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, kemudian berdiri sholat dua rakaat, maka ia memperoleh pahala haji dan umrah.

Waktu bada subuh hingga terbit matahari adalah waktu pernuh barakah yang seharusnya benar-benar dipelihara oleh setiap mukmin. 

Peliharalah waktu itu dengan mengisinya melalui tilawatul Quran satu juz dalam satu hari, berdzikir atau menghapal. Inilah yang dilakukan Rasulullah SAW selesai menunaikan shalat subuh, bahwa ia duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari (HR. Muslim)

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda ; Barangsiapa shalat fajar berjamaah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir mengingat Allah, hingga terbit matahari lalu sholat dua rakaat (Dhuha), maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, dan sempurna. (Diriwayatkan Shahih oleh Al-Albani).

Sumber : 24 Jam bersama Orang-Orang Shalih di Bulan Ramadhan. Tarbawi.   Edisi 118 Th.7 13 Oktober 2005.


Posted at 07:45 pm by febri78
Make a comment  

Jan 12, 2006
Fiqih Tharah - Mengusap Kedua Khuf dan Kaos Kaki

Mengusap Kedua Khuf dan Kaos Kaki

Disusun Oleh : Idrus Yusuf

  Kajian Fiqih Taharah

Kerjasama Lembaga Amil Zakat Izzatul Muslim (Lazim) dengan  LSI- Al Falah

 

Diantara hal yang masuk dalam hukum wudhu adalah mengusap kedua khuf (selop), kaos kaki dan hal yang serupa dengan itu.

Ini yang dimaksud dalam bab wudhu, karena membasuh keduanya merupakan pengganti dan karena mencuci kedua kaki merupakan bagian paling sulit dalam wudhu. Oleh karena membasuh kedua selop dan semua yang serupa dengannya, atau semua yang berhubungan dengan apa yang dipakai oleh kaki merupakan sesuatu yang mendapat keringanan dan kemudahan terhadap orang-orang mukallaf dan sebagai rukhshah syariat atas mereka. Allah sangat menyukai jika keringanan yang Dia berikan dikerjakan.

Namun Syiah Imamiyah mengingkari mengusap kedua selop sebab mereka berpendapat boleh mengusap kedua kaki secara langsung. Sesuai dengan bacaan mereka dalam bentuk Jarr dalam firman Allah: Dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki (Al Maidah: 6)

Sedangkan ahli sunnah secara keseluruhan dengan semua ragam madzhabnya menyatakan boleh mengusap kedua selop karena adanya hal tersebut dalam banyak hadits hingga mencapai derajat mutawatir.

Banyak diantara ulama hadits yang menganggap bahwa hadits itu telah mencapai derajat mutawatir. Al Kattani menyebutkan dalam bukunya Nuzhum Al Mutanatsir fi Al Hadits Al Mutawatir beberapa nama sahabat yang meriwayatkan tentang bolehnya mengusap selop ini. Dia mendapatkan sebanyak 66 orang sahabat. Kemudian dia berkata: Pintu kemungkinan untuk tambah masih sangat terbuka.

Dia berkata: Beberapa jamaah penghafal hadits (huffazh) mengatakan dengan jelas dan tegas bahwa hadits tentang mengusap kedua selop itu adalah mutawatir. Sedangkan ungkapan Ibnu Abdul Barr mengenai riwayat dari mereka adalah: Yang meriwayatkan dari Rasulullah mengenai mengusap kedua selop ada sekitar empat puluh sahabat. Banyak dan sampai pada tingkat mutawatir.

Ahmad telah mendahuluinya, terbukti saat dia mengatakan: Dalam hati saya tidak ada keraguan dalam hati saya mengenai hadits mengusap kedua selop. Ada empat puluh hadits dari Rasulullah. Baik yang sampai derajat marfu ataupun sampai pada derajat mawquf.

Dalam Fath Al Bari disebutkan: Sejumlah besar huffazh (penghafal) hadits menegakkan bahwa mengusap kedua selop itu adalah mutawatir. Para perawinya dikumpulkan ternyata mereka berjumlah lebih dari delapan puluh. Diantaranya termasuk sahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Dalam riwayat Abu Syaibah dan yang lainnya, dari Al Hasan Al Bashri: Ada tujuh puluh sahabat yang mengatakan kepada saya tentang membasuh kedua selop.

Dalam Faidhul Qadir karangan Al Manaawi disebutkan: Hadits tentang mengusap kedua selop kaki itu mencapai derajat mutawatir. Sampai-sampai Ibnul Hammam berkata: Berkata Abu Hanifah: Saya tidak mengatakannya sehingga ia (hadits tentang membasuh selop itu) sampai pada saya laksana cahaya siang. Disebutkan juga darinya: Saya khawatir kekafiran akan menimpa seseorang yang tidak menganggap bolehnya mengusap kedua selop, sebab hadits-haditsnya telah sampai pada derajat mutawatir. Oleh sebab itulah kami melihat kalangan ulama ahli sunnah dari ahli kalam (teologi) telah menempatkan masalah mengusap kedua selop itu dalam buku-buku akidah. Seperti dalam buku Al Aqaid An Nasafiyah dan lainnya.

Ibnul Qasshar dari kalangan madzhab Maliki mengatakan: Orang yang mengingkarinya sama dengan orang yang fasik. Ibnul Habib berkata: Tidak akan mengingkari masalah ini kecuali orang yang tertipu. Anas bin Malik ditanya tentang sunnah dan jamaah. Maka dia menjawab: Hendaknya dia mencintai dua syaikhain (maksudnya adalah Abu Bakar dan Umar) jangan sampai mencerca Hasanain (Hasan dan Husein) dan mengusap kedua selop.

Abu Hanifah ditanya mengenai hal sunnah dan jamaah. Maka dia menjawab: hendaknya dia mendahulukan keutamaan Abu Bakar dan Umar, mencintai kedua suami puteri Rasulullah (Ali dan Utsman) dan hendaknya dia mengakui pengusapan kedua selop.

 

Perintah Untuk Mengusap Kedua Selop

Dalam pandangan seluruh ahli ilmu sejak masa sahabat Rasulullah dan tabiin mengusap selop adalah boleh. Ibnul Mubarik berkata: Tidak ada perselisihan bahwa mengusap kedua selop itu adalah boleh. Dari Hasan dia berkata: Ada tujuh puluh sahabat Rasulullah yang mengatakan kepada saya bahwa Rasulullah mengusap kedua selopnya.

Asal pendapat ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Mughirah bin Syubah, dia berkata: Saya bersama dengan Rasulullah dalam sebuah perjalanan, kemudian saya ingin melepaskan kedua selopnya. Maka dia bersabda: Biarkanlah, sebab saya memasukkannya dalam keadaan suci, lalu dia mengusapnya.

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya dia kencing kemudian dia berwudhu dan mengusap kedua selopnya kemudian dia berdiri dan shalat. Lalu dia ditanya tentang perbuatannya itu, lantas dia menjawab: Saya melihat Rasulullah melakukan hal seperti ini.

Dalam riwayat dari Jabir dia berkata: Tidak ada yang menghalangi saya untuk mengusap sebab saya melihat Rasulullah telah mengusap. Mereka berkata: Sesungguhnya yang demikian itu dilakukan Rasulullah sebelum turunnya surat Al Maidah! Dia berkata: Saya belum masuk Islam kecuali setelah turunnya surat Al Maidah.

            Mereka mengatakan bahwa ini sebelum turunnya surat Al Maidah, yakni turunnya surat Al Maidah, yakni bahwa mengusap itu adalah sebuah keringanan pada awalnya.  Kemudian keringanan pada awalnya. Kemudian keringan itu dinasakh dengan firmal Allah : "dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki" (Al Maidah:6). Lalu dia mengabarkan pada mereka bahwa dia masuk islam agak belakangan, yakni pada tahun kesepuluh kenabian.   Oleh sebab itulah Ibrahim berkata: Hadits ini membuat mereka kagum, sebab Jabir masuk Islam setelah turunnya surat Al Maidah.

             An Nawawi berkata: Madzhab kami dan madzhab para ulama secara keseluruhan adalah boleh mengusap kedua seop baik dalam perjalanan maupun saat berada dirumah. Sedangkan Syiah dan Khawarij mengatakan bahwa hal itu tidak boleh.

Dikisahkan dari Malik dalam riwayat yang paling masyhur dan kuat dalam pandangan sahabat-sahabatnya adalah bahwa itu boleh kapan saja.

Ibnul Mundzir menyebutkan: Para ulama sepakat mengatakan tentang bolehnya mengusap kedua selop.

Itu ditunjukkan dalam hadits-hadits shahih yang demikian banyak bahwa Nabi mengusap kedua selopnya baik saat melakukan perjalanan ataupun tidak dan memerintahkannya untuk itu, serta keringannya untuk melakukan itu dan kesepakatan para sahabat setelah Rasulullah.

Sedangkan perintah membasuh dalam ayat: dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki (Al Maidah:6) ayat ini hanya bagi mereka yang tidak memakai selop sesuai dengan keterangan yang ada didalam sunnah. Sedangkan orang-orang yang tidak setuju sama sekali tidak memiliki semangat dan spirit apapun.

Adapun yang diriwayatkan oleh Ali dan Ibnu Abbas dan Aisyah tentang ketidaksukaan mereka untuk mengusap selop, maka yang demikian itu tidak ada dasarnya. Bahkan sebaliknya disebutkan dalam Shahih Muslim dan yang lainnya dari Ali: Bahwa dia meriwayatkan mengusap selop itu dari Rasulullah.

Abu Dawud dan yang lainnya meriwayatkan darinya: Andaikata agama itu hanya dengan memakai otak, maka mengusap selop bagian dalam lebih utama dari bagian luarnya. Namun saya melihat Rasulullah mengusap bagian luar selopnya.

Dalam riwayat Muslim: Sesungguhnya Aisyah ditanya tentang mengusap kedua selop. Maka dia berkata: Tanyakan saja kepada anak Abi Thalib (maksudnya Ali, pen), tanyakan padanya sebab dia sering melakukan perjalanan bersama Rasulullah.

Andaikata hadits demikian memang hadits dari Ibnu Abbas dan Aisyah maka hendaknya itu ditafsirkan sebelum berita itu sampai pada keduanya tentang kebolehan mengusap kedua selop. Namun tatkala kabar itu sampai padanya maka kedua menarik pendapatnya. Imam Al Baihaqi meriwayatkan makna hadits ini dari Abdullah bin Abbas.

Dia berkata: Masalah ini tidak usah diperpanjang karena banyaknya hadits yang menyebutkan tentang masalah ini. Wallahu alam.

Diantara yang disebutkan oleh fuqaha ada alasan-alasan yang tampak dari tujuan pembuat syariat. Apa yang dikatakan oleh Asy Syairazi dalam Al Muhadzdzab: Sebab itu sangat dibutuhkan untuk dipakai, dan melepaskannya sangat sulit maka bolehlah mengusapnya sebagaimana pada pembalut tulang yang patah.

 

Membasuh atau Mengusap yang Lebih Utama?

Para fuqaha berselisih pendapat dalam masalah ini, mana yang lebih utama? Membasuh kedua kaki disaat wudhu atau mengusap selop?

                Imam Syafii berkata: Meskipun mangusap kedua selop itu boleh, tetapi membasuh kedua kaki lebih baik, dengan syarat hendaknya ia lakukan itu bukan karena membenci sunnah. Tidak ada keraguan dibolehkannya. Adapun dalil mereka adalah berdasarkan perbuatan yang sering dilakukan oleh Rasulullah dibanyak waktu. Dan bahwasanya membasuh kaki adalah asalnya wudhu maka ia lebih utama seperti perbandingan antara wudhu dan tayammum, tentang dibolehkannya bertayammum.

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Umar dan anaknya: Mengutamakan membasuh kedua kaki. Begitu juga Al Baihaqi meriwayatkan dari Abu Ayyub Al Anshari.

Diriwayatkan dari Ahmad dia berkata: Mengusap lebih utama daripada membasuh. Oleh sebab itu Rasulullah dan para sahabat mencari yang lebih utama. Ini juga merupakan madzhab Asy Syabi, Al Hakam dan Ishaq. Diriwayatkan dari Rasulullah dia bersabda: Sesungguhnya Allah menyukai apabila rukhshahnya diambil. Dan yang demikian itu berlawanan dengan ahli bidah. Ibu Aqil Al Hambali menyebutkan tersebut dalam riwayat dari Ahmad: Bahwasanya membasuh lebih utama. Karena ia yang diwajibkan dalam kitabullah. Sedangkan mengusap adalah rukhshah. Hambal meriwayatkan dari Ahmad pada riwayat yang ketiga: Semuanya boleh, mengusap dan membasuh. Tidak ada ganjalan sama sekali dalam hatiku tentang mengusap dan membasuh. Ini adalah perkataan Ibnul Mundzir. Diriwayatkan dari Umar bahwasanya dia memerintahkan mereka untuk mengusap selop mereka lalu ia sendiri melepaskan selopnya dan berwudhu lalu berkata: Aku lebih menyukai wudhu. Dari Ibnu Umar dia berkata: Sesungguhnya aku lebih suka membasuh kedua kakiku, maka janganlah kamu mengikutiku!

Ibnu Taimiyah berkata: Dan Fashl Al Khithab: Yang lebih utama pada setiap orang adalah yang sesuai dengan keadaan kakinya. Bagi yang kakinya terbuka, maka membasuh lebih utama, jangan dia menyusahkan diri memakai selop agar bias mengusapnya. Sebagaimana Rasulullah membasuh kedua kakinya. Dan apabila kakinya tidak terbuka, maka dia mengusapnya jika dia memakai selop.

 

Mengusap Kedua Selubung Sepatu

Diantara masalah yang sering kali disebutkan para fuqaha adalah bahwa seseorang boleh mengusap kedua selubung sepatunya. Selubung sepatu itu laksana: khuf (selop). Hanya saja ia dipakai diatas selop dinegeri-negeri yang dingin. Dengan demikian maka boleh bagi seseorang untuk mengusap diatasnya, sebagai analogi (qiyas) pada selop.

Diantara fuqaha yang membolehkan mengusap selubung sepatu jika ia berada diatas selop adalah Al Husain bin Salih, serta Abu Hanifah dan murid-murid utamanya. Imam Syafi'i berkata dalam pendapatnya yang baru (qaul jaded) : Tidak boleh diusap

 

Mengusap Kedua Kaos Kaki

Boleh mengusap kedua kaos kaki. Ibnul Mundzir berkata: Kebolehan mengusap kaos kaki ini diriwayatkan oleh sembilan sahabat Rasulullah: Ali, Ammar, Ibnu Masud, Anas, Ibnu Umar, Al Bara, Bilal, Ibnu Abi Awfa dan Sahl bin Saad. Abu Dawud menambahkan: Amr bin Huraits. Dia berkata: Diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Abbas.

Ini adalah pendapat Atha, Al Hasan, Said bin Musayyab, Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Ishaq, Yaqub dan Muhammad.

Abu Hanifah, Malik, Al AwzaI dan Asy SyafiI dan yang lainnya berkata: Tidak boleh mengusap atas keduanya kecuali memakai sandal. Sebab dia tidak akan mungkin melakukan perjalanan dengan keduanya. Kedua itu laksana sesuatu yang tipis.

Sedangkan dalil yang membolehkan adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Mughirah bin Syubah bahwa Rasulullah mengusap kedua kaos kaki dan kedua sandalnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizi. At Tirmizi berkata: Hadits ini hasan shahih. Dengan demikian ini menunjukkan bahwa keduanya tidak dalam keadaan bersandal. Sebab jika demikian maka tidak akan disebutkan kedua sandal. Sebab dengan demikian tidak akan disebutkan diusap kaos kaki dan sandalnya. Disamping itu para sahabat mengusap kaos kaki mereka dan tidak ada seorangpun yang membantahnya pada masa itu. Kaos kaki itu sebenarnya adalah sama maknanya dengan khuf sebab dia dipakai dengan menutupi tempat yang diwajibkan. Kemungkinan bias berjalan diatasnya, serupa dengan khuf. Sedangkan perkataan mereka, tidak mungkin untuk berjalan dengannya, maka kami katakan: Sesungguhnya boleh saja mengusap kedua kaos kaki jika memang telah ada dasarnya dan mungkin saja berjalan dengannya. Jika tidak maka tidak boleh. Sedangkan kaos kaki yang tipis ia tidak menutupinya.

An Nawawi berkata: Menurut madzhab kami yang benar adalah bahwa sesungguhnya kaos kaki itu walaupun lemah namun sangat mungkin berjalan diatasnya maka boleh mengusapnya. Jika tidak maka tidak boleh. Sahabat-sahabat kami mengisahkan dari Umar dan Ali tentang bolehnya mengusap kaki walaupun tipis. Mereka jika meriwayatkan ini dari Abu Yusuf, Muhammad, Ishaq dan Dawud.

Sedangkan Abu Hanifah mengatakan: Dilarang secara mutlak. Kemudian setelah itu dia mencabut pendapat pertamanya dan menyatakan boleh saja.

Mereka berdalil dengan hadits Al Mughirah tadi, yang menyebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah mengusap kedua kaos kaki dan kedua sandalnya.

Sedangkan mereka yang tidak sependapat dengan pendapat ini dengan mengatakan bahwa hadits ini adalah lemah atau menakwilkan dengan pengertian lain.

Ibnu Daqiq Al Ied, Syaikh Syakir menyatakan bahwa hadits ini adalah shahih. Syaikh Al Albani dalam Irwa Al Ghalil menyatakan hal yang sama. Dan banyak yang lainnya.

Dalam pandangan saya pendapat yang paling kuat adalah memberi kelapangan dan kemudahan dalam masalah ini. Sebab maksud dari disyariatkannya mengusap kedua khuf dan kedua kaos kaki adalah memberikan keringanan, kemudahan dan kelapangan pada manusia. Dalam beberapa ungkapan sebagian sahabat disebutkan: Rasulullah telah memberikan keringanan kepada kami untuk tidak melepas khuf-khuf kami pada saat wudhu. Jika kita memberatkan dalam syarat khuf dan kedua kaos kaki maka itu sama artinya dengan menyia-nyiakan maksud dari keringanan itu.

Sedangkan kebanyakan kaos kaki pada masa kita sekarang ini tipis, namun kuat. Dan bukan sesuatu yang mesti bahwa kaos kaki itu bisa dipakai untuk berjalan diatas tanah. Sebab umumnya manusia tidak berjalan hanya dengan menggunakan kaos kaki. Sebab mereka biasa memakainya bersama-sama dengan sepatu.

Cukuplah bagi kita dalil bahwa sekian banyak sahabat Rasulullah sebagian menghitung jumlah mereka hingga mencapai delapan belas orang memfatwakan kebolehan mengusap kaos kaki. Satu hal tidak bias disangkal bahwa bahan dan bentuk kaos kaki senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun demikian adanya perbedaan ini jangan sampai menghapus pokok keringanan yang Rasulullah berikan kepada kita.

Sudah kita ketahui bersama bahwa membasuh kaki itu adalah bagian yang paling sulit dalam wudhu. Sampai-sampai sebagian orang berkata: Membasuh kaki itu adalah seperempat wudhu secara zhahir namun pada realitanya dia lebih dari tiga perempat. Oleh sebab itu banyak manusia yang bekaerja sehari-hari, khususnya mereka yang mmemakai kaos kaki dengan sepatu, dan menggunakan celana panjang dan yang serupa dengannya sangat sulit bagi mereka untuk melepas sepatu dan kaos kakinya untuk berwudhu. Banyak diantara mereka meninggalkan shalat. Kita berlindung kepada Allah dari tindakan ini. Maka apabila kita memfatwakan kepada mereka tentang bolehnya mengusap kaos kaki, berarti kita telah memudahkan urusan shalat bagi mereka.

 

Khuf yang Sobek

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai khuf yang sobek berlubang ditempat yang seharusnya ditutupi. Sebagian membolehkan dan sebagian yang lain tidak membolehkan. Sebagaimana disebutkan dalam madzhab Syafii dan Hambali. Sementara ada pula yang merincinya.

Ibnul Mundzir mengisahkan dari Sufyan Ats Tsauri, Ishaq, Yazid bin Harun dan Abu Tsaur dimana mereka membolehkan mengusap semua bentuk khuf.

Ibnul Mundzir berkata: Dengan mengutip apa yang dikatakan oleh Ats Tsauri, saya katakana sesuai dengan zhahir hadits Rasul: Mengusap kedua khuf dalam sabda Rasulullah itu sifatnya umum, masuk didalamnya semua khuf.

Sebagaimana perlu diketahui disini bahwa kebolehan mengusap itu ada keringanan (rukhshah). Ini tentu saja menghajatkan pada kemudahan. Sedangkan kebutuhan itu menimbulkan sobek dan jarang khuf yang tidak mengalami sobek. Ini sulit untuk dihindari. Khususnya saat seseorang sedang berada dalam perjalanan. Oleh sebab itulah bias dimaafkan karena adanya kebutuhan itu.

 

Mengusap Sorban Kepala

Diantara hal yang terjadi perbedaan pendapat para sahabat adalah mengusap serban kepala. Diantara mereka yang mengatakan boleh melakukan itu adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Anas dan Abu Umamah. Sebagaimana pandangan ini juga diriwayatkan dari Saad bin Malik (Ibnu Abi Waqqas) dan Abu Ad Darda. Pendapat ini juga merupakan pendapat Umar bin Abdul Aziz, Al Hasan, Makhul, Qatadah, Ibnul Mundzir dan yang lainnya. Pendapat ini juga merupakan pendapat fuqaha dari berbagai wilayah. Antara lain Al AwzaI dalam sebuah riwayat darinya. Juga Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Dawud, Ath Thabrani dan Ibnu Khuzaimah.

Urwah, An NakhaI, Asy Syabi, Al Qasim bin Muhammad, Malik dan SyafiI serta Abu Hanifah dan murid-muridnya berkata: Tidak boleh dibasuh atas keduanya. Ini berdasarkan  pada firman Allah yang berbunyi: dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, (Al Maidah:6). Disamping itu tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk mencopotnya, sebagaimana halnya kedua lengan baju. Sebagian yang lain mensyaratkan bahwa cara bersorbannya adalah bersorban orang Arab yakni dengan melilitkannya dibawah mulut sehingga tidak mungkin baginya untuk mencopotnya setiap saat. Jika demikian maka sama dengan kedua khuf.

Sebagian yang lain mensyaratkan dalam mengusap sorban hendaknya orang yang mengusap sebagian kecil dari kepala (yakni mengusap ubun-ubun, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits).

Sebagian yang lain mensyaratkan hendaknya saat dia memakai berada dalam keadaan suci sebagaimana saat memakai khuf.

Sebagian yang lain tidak mensyaratkan apa-apa. Dan perbedaan diantara mereka ini menjadi rahmat dan kelapangan.

Sedangkan dalil tentang kebolehannya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Mughirah bin Syubah. Dia berkata: Rasulullah mengambil wudhu, dia mengusap kedua khkufnya dan sorban kepalanya. At Tirmidzi berkata: Ini adalah haditz hasan shahih.

Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah mengusap kedua khuf dan tutup kepalanya (sorban).

Dari Amr bin Umayyah Adh Dhamiri dia berkata: Saya melihat Rasulullah mengusap serban kepala dan kedua khufnya.

Abu Dawud meriwayatkan dari Tsauban dia berkata: Rasulullah mengirimkan ekspedisi perang. Ditengah medan mereka diserang dingin. Maka tatkala mereka dating kepada Rasulullah dia memerintahkan pada mereka untuk mengusap Al Ashaib (serban) dan At Tasakhin (khuf) mereka.

Al Ashaib sebagaimana yang dikatakan oleh Al Khattabi adalah sorban. Karena ia membalut kepala. Sedangkan At Tasakhin adalah khuf. Dikatakan demikian karena pada dasarnya khuf, kaos kaki dan sebagainya menghangatkan kaki.

Ini karena merupakan ucapan para sahabat dan tidak didapatkan seorangpun yang menentang pada masa itu. Ini juga karena ia (kepala) tidak diwajibkan dalam tayammum, dengan demikian boleh mengusapnya pada penghalangnya, sebagaimana yang ada pada kedua kaki. Ayat diatas tidak menafikan apa yang telah kami sebutkan. Sebab Nabi adalah sosok yang menerangkan firman Allah. Dan dia telah mengusap sorban kepalanya dan memerintahkan untuk mengusapnya. Ini semua menunjukkan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu mengusap kepala dan yang menghalangi kepala. Adapun yang menjelaskan hal itu adalah bahwa mengusap kebanyakan dilakukan pada rambut. Yang terkena hanyalah rambut itu dan bukan kepala. Rambut posisinya sama dengan penghalang pada kepala. Demikian juga halnya dengan serban kepala. Sesungguhnya seseorang yang menyentuh sorban seseorang atau menciumnya maka dia akan mengatakan: Mencium kepalanya. Wallahu alam.

 

Usapan Perempuan Pada Tutup Kepalanya

Ada dua riwayat dari Ahmad mengenai mengusap tutup kepala bagi kalangan wanita. Salah satu diantaranya membolehkan. Ini diriwayatkan dari Ummu Salamah. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnul Mundzir. Ini karena ia dipakai diatas kepala yang sulit untuk menanggalkannya, sama dengan sorban. Pendapat kedua tidak membolehkan. Pendapat ini adalah pendapat Nafi, An Nakhai, Hammad, Al Awzai, Malik, Asy Syafii. Dengan alasan bahwa pakaian itu adalah pakaian khusus untuk kalangan wanita. Maka dia sama posisinya seperti kopiah untuk kalangan laki-laki.

 

Batasan Waktu Mengusap Bagi yang Mukim dan Musafir (Melakukan Perjalanan)

            Jumhur fuqaha memberikan batasan waktu tertentu untuk mereka yang mengusap khuf dan kaos kaki. Bagi yang mukim (tidak bepergian) maka waktunya adalah sehari semalam. Sedangkan bagi yang melakukan perjalanan waktunya adalah tiga hari tiga malam.

Ini adalah madzhab Abu Hanifah, Ahmad dan murid-murid keduanya. Ini juga dalam pandangan madzhab Syafii dan pandangan jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabiin dan mereka yang datang setelah mereka. Sebagaimana dinukil oleh Imam At Tarmizi, Al Khathabi, Ibnul Mundzir dan yang lainnya.

Hujjah jumhur adalah hadits yang demikian banyak dan shahih yang memberi batasan waktu bagi orang yang mengusap. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa  Rasulullah memberi batasan tiga hari tiga malam bagi yang melakukan perjalanan dan sehari semalam bagi yang tidak melakukan perjalanan (mukim). Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Antara lain juga adalah hadits Abu Bakrah bahwa Rasulullah ditanya tentang mengusap kedua khuf. Maka Rasulullah menjawab: Bagi yang musafir tiga hari tiga malam, dan bagi yang mukim sehari semalam. An Nawawi berkata: Ini adalah hadits hasan. Al Baihaqi berkata, Al Bukhari berkata: Ini adalah hadits hasan.

Diantaranya juga adalah hadits Khuzaimah bin Tsabit dalam masalah mengusap kedua khuf: Bagi musafir tiga hari dan bagi yang mukim hanya sehari. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi dan selain keduanya. Imam At Tirmidzi berkata: Hadits ini adalah hadits hasan shahih.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Auf bin Malik Al AsyjaI tentang batasan waktu itu. Hadits ini diriwayatkanoleh At Tirmidzi dan Imam Al Bukhari menyatakan bahwa hadiits ini adalah hasan.

Demikian juga dengan hadits Shafwan bin Assal. An Nawawi berkata: Hadits ini adalah shahih.

Hadits-hadits tentang batasan waktu itu demikian banyak jumlahnya. Mereka berkata: Oleh karena kebutuhan tidak menuntut itu maka tidak usah ditambah lagi.

Sekelompok ulama salaf berkata: Tidak ada batasan waktu bagi orang yang mengusap, dan hendaknya dia mengusap kapan saja dia mau. Mereka mendasarkan pendapatnya pada apa yang diriwayatkan oleh Abu Salamah bin Abdur Rahman, Asy Syabi, Rabiah, Al Laits dan masyhur dari Imam Malik. Namun dalam riwayat lain darinya, ada batasan waktu. Dalam riwayat yang lain lagi disebutkan bahwa itu ada batasan waktu bagi yang tidak melakukan perjalanan namun tidak untuk yang sedang dalam perjalanan.

Said bin Jubair berkata: Hendaknya dia mengusap dari waktu pagi hingga petang.

Mereka yang mengatakan bahwa tidak ada batasan waktu mendasarkan pendapatnya pada apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ubay bin Imarah, dia pernah melakukan shalat bersama Rasulullah dengan menghadap dua kiblat, dia berkata: Wahai Rasulullah apakah aku bisa mengusap dua khuf. Rasulullah bersabda: Ya! Sehari? Dia bersabda: Sehari! Dia bertanya lagi: Dua hari? Dia bersabda: Ya! Dia berkata: Tiga hari? Dia bersabda: Ya! Dan sesuka kamu. Dalam riwayat Ubay dia berkata didalamnya: Hingga sampai tujuuh. Rasulullah bersabda: Ya, terserah kamu.

Abu Dawud berkata: Ada perbedaan pendapat mengenai sanadnya dan dia bukan termasuk yang kuat.

Oleh sebab itulah Imam An Nawawi berkata: Hadits bin Imarah disepakati sebagai hadits lemah. Maka tidak bisa dia dijadikan sebagai hujjah. Andaikata ini benar maka itu bisa ditafsirkan tentang kebolehan mengusap dengan syarat selalu memperhatikan batasan waktu. Sebab dia bertanya pada kebolehan mengusap dan bukan pada batasan waktu mengusap.

Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Khuzaimah bin Tsabit dari sebuah riwayat: Andaikata kami meminta tambahan pasti dia akan menambahkan kepada kami.

Mereka juga berdalil dengan hadits Anas dengan sanad marfu: Jika salah seorang diantara kalian berwudhu dan memakai kedua khufnya, maka hendaknya dia shalat dengan menggunakannya, dan mengusap keduanya. Kemudian janganlah dia menanggalkannya, jika mau kecuali junub.

Juga dengan hadits Uqbah bin Amir dia berkata: Saya berangkat dari Syam menuju Madinah pada hari jumat. Kemudian saya masuk menemui Umar bin Khattab. Maka dia berkata: Kapan kamu memasukkan kedua khufmu kedalam kakimu? Saya menjawab: Pada hari Jumat! Dia berkata: Apakah kau menanggalkan? Saya berkata: Tidak! Dia berkata: Kau telah melakukan sesuatu yangsesuai dengan sunnah.

Dalam riwayat yang lain dia berkata: Saya memakainya pada hari Jumat, sedangkan hari ini adalah hari Jumat, delapan hari. Maka Umar berkata: Kau telah melakukan satu hal yang selaras dengan sunnah. HR. Al Baihaqi dan yang lainnya.

Tampaknya Uqbah menjadi seorang utusan pembawa surat sehingga memungkinkan baginya untuk menempuh jarak dalam waktu yang sangat singkat.

Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya dia tidak memberi batasan waktu tertentu dalam hal mengusap kedua khuf.

Jumhur ulama menyatakan bahwa hadits-hadits tersebut adalah hadits yang lemah sebagaimana telah diterangkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu. Mereka berkata tentang hadits: Andaikata kami minta tambahan maka pasti akan memberikan tambahan bahwa itu semata-mata perkiraan dari sang perawi. Dan penentuan hokum tidak bias ditetapkan dengan cara demikian.

Sedangkan riwayat dari Umar, hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Kemudian dia berkata: Kami telah meriwayatkan tentang batasan waktu dari Umar maka ada kemungkinan bahwa dia menarik perkataan setelah dia mendapat berita bahwa Rasulullah memberi batasan waktu, atau ada kemungkinan perkataannya bahwa sesuatu yangsesuai dengan sunnah yang masyhur adalah lebih utama. Apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar juga bisa dijawab dengan dua jawaban ini. Wallahu aalam.Imam Ibn taimiyah berpendapat: tidak ada batasan waktu saat dibutuhkan.

 

Kapan Mulainya Mengusap itu Dihitung

Mulainya mengusap itu dihitung sejak terjadinya hadats setelah memakai khuf. Sebab ia adalah ibadah yang dibatasi oleh waktu. Maka mulai waktunya adalah sejak diperbolehkannya untuk melakukannya, sebagaimana shalat.

Andaikata seseorang melakukan shalat Subuh setelah memakai khuf, kemudian dia berhadats, maka sejak itulah perhitungan waktunya dimulai, walaupun mungkin dia tidak mengusap kecuali setelah wudhu untuk shalat zhuhur.

Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan para sahabatnya serta madzhab SyafiI, Sufyan Ats Syauri dan jumhur ulama. Ini juga merupakan salah satu pendapat yang paling shahih dari pendapat Ahmad dan Dawud.

Al Awzai dan Abu Tsaur berkata: Permulaan waktunya adalah sejak mengusap setelah hadats. Ini adalah salah satu riwayat yang dating dari Ahmad dan Abu Dawud. An Nawawi berkata: Ini adalah p


Posted at 07:56 pm by febri78
 

Fiqih Tharah - Tayammum

TAYAMMUM

Disusun Oleh : Idrus Yusuf

  Kajian Fiqih Taharah

Kerjasama Lembaga Amil Zakat Izzatul Muslim (Lazim) dengan  LSI- Al Falah

 

A. Ta'rif
Tayammum adalah bersuci simbolis sebagai ganti dari mandi dan wudhu ketika tidak ada air baik secara hakikat ataupun makna (hukmi). Sedangkan dalil penyari'atkannya adalah Al Qur'an, sunnah dan ijma'.

Allah SWT berfirman:

 يا أيها الذين آمنوا لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون ولا جنبا إلا عابري سبيل حتى تغتسلوا وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جاء أحد منكم من الغائط أو لامستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم إن الله كان عفوا غفورا

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapati air, maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun". (An Nisaa': 43)

Kemudian firmanNya dalam surat Al Maidah:

يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤوسكم وأرجلكم إلى الكعبين وإن كنتم جنبا فاطهروا وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جاء أحد منكم من الغائط أو لامستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم منه, ما يريد الله ليجعل عليكم من حرج ولكن يريد ليطهركم وليتم نعمته عليكم لعلكم تشكرون

 

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu tidak kamu memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikamtNya bagimu, supaya kamu bersyukur". (Al Maidah: 6)

Sedangkan dalam Sunnah, banyak hadits-hadits shahih yang menunjukkan tentang syariat tayammum. Baik dalam bentuk fi'liah, (perbuatan langsung) atau taqririah (persetujuan). Hadits-hadits ini dapat kita lihat pada bahasan berikut.
         Sedangkan ijma' semua madzhab dan semua aliran dalam Islam sepakat dan para fuqaha kaum muslimin sejak zaman sahabat dan tabi'in telah sepakat tentang diwajibkannya tayammum dengan syarat-syaratnya.

B. Hikmah Disyariatkannya

Jumhur ulama sepakat bahwa tayammum adalah ibadah mahdhah. Tidak ada hikmah yang tersembunyi kecuali ketaatan, rasa merendahkan diri terhadap perintah Allah yang merupakan salah satu konsekwensi diujinya seorang hamba dengan taklif dan beban-beban walaupun tidak dipahami maknanya. Disini yang berlaku adalah firman Allah; Aku perintahkan dan Aku wajibkan. Sedangkan Sang Hamba berkata; Aku dan dengar dan aku taati.
      Namun satu hal yang disepakati para ulama bahwa Allah tidak akan mewajibkan sesuatu atas makhlukNya melainkan disana ada hikmah. Yang tidak semua orang dapat mengetahuinya. Sebab diantara nama-namaNya adalah Al Hakiim Yang Maha bijaksana. Dan diantara kebijaksanaanNya adalah Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan percuma dan tidak mensyariatkan sesuatu dengan percuma. Ini merupakan sesuatu yang sudah dimaklumi dan sangat diyakini. Namun kita juga tidak boleh mengambil sikap yang berlebihan dalam menetapkan hikmah-hikmah terhadap ibadah-ibadah tersebut yang tidak ada nash yang jelas dari Al Qur'an dan Sunnah. Sebagaimana tidak dibolehkan bagi kita untuk menghubungkan hukumnya secara syara' sebagai suatu sebab akibat. Yang perlu kita lakukan adalah kita menganggapnya sebagai bagian ibadah yang tidak ada ujungnya.
        Beberapa ulama telah mengungkapkan beberapa hikmah dari tayammum. Baik dimasa lalu maupun masa kini. Seperti Ibnul Qayyim, Asy Sya'rani dan Ad Dahlul dari kalangan ulama lama dan Syekh Rasyid Ridha dari kalangan ulama modern yang mengungkapkannya dalam tafsir Al Manar.

Diantara ungkapan yang paling baik adalah apa yang dikatakan oleh Ad Dahlawi dalam bukunya yang sangat terkenal Al Hujjah Al Balighah, dia berkata; Menjadi salah satu Sunnatullah, Allah dalam syariat-syariatNya untuk memberikan kemudahan bagi mereka (makhlukNya) sesuai dengan kemampuan mereka dan yang menjadi salah satu bentuk kemudahan itu adalah menggeser sesuatu yang berat dengan didatangkannya sebuah pengganti agar jiwa mereka dengan melalaikan kewajiban mereka sekaligus dan pada saat yang sama tidak meninggalkan thaharah (bersuci). Maka Allah menggugurkan wudhu dan mandi pada saat seseorang sedang sakit atau berada dalam perjalanan dan menggantinya dengan tayammum. Oleh karena ini merupakan bentuk penurunan dari bersuci yang sebenarnya dari mandi dan wudhu dan berubah manjadi tayammum dan terdapat bentuk keserupaan antara keduanya, dengan demikian maka dia disebut sebagai salah satu bentuk dari bersuci. Pengganti (qadha') semacam ini merupakan salah satu perkara yang demikian agung yang merupakan karakter khusus yang dimiliki agama terpilih ini yang berbeda dengan agama-agama yang lain. Hal ini terekspresikan dalam sabdanya;

وَجُعِلَتْ تَرْبَتُهَا لَنَا طُهُوْرًا اذا لم تجدِ الماء

"Tanahnya dijadikan sesuatu yang suci dan menyucikan bagi kita saat tidak didapatkan air".

 Saya katakan; Tanah ini mendapat perlakuan khusus karena ia selalu ada dan dia merupakan sarana paling tepat untuk menghilangkan kesulitan yang ada. Juga karena ia adalah sesuatu yang menyucikan bagi benda lain seperti pada selop (khuf) dan pedang yang menjadi pengganti dari mencuci dengan air.
            Asy Sya'rani berkata, Apa yang dikatakan oleh para ulama dalam bab Haji adalah bahwa seorang yang botak yang tidak memiliki rambut dikepalanya dianjurkan untuk mencukur kepalanya sebagai tindakan yang menyerupai orang-orang yang bercukur rambut agar dia tidak lepas dari melakukan sesuatu tatkala bertahallul dikala ihram.
          Syaikh Rasyid menekankan bahwa seseorang tang bertayammum, meskipun dia tidak wudhu dan mandi dalam bersuci sesungguhnya dia tidak kehilangan makna ketaatan dan ketundukan. Sebab tayammum adalah sebuah simbol dari bersuci yang dibolehkan karena darurat, memiliki makna taat dalam kesucian jiwa yang dimaksudkan oleh agama pertama kali dan dzat.
Dan ini merupakan bentuk symbol dari disyariatkannya kesucian badan agar dia bias menjadi penolong penyucian jiwa dan sebagai sarana menuju kesana.

C. Sebab Tayammum

Siapa saja yang membaca dua ayat tentang tayammum, maka paling kurang ia akan mengetahui bahwa ada tiga alasan mengapa seseorang harus bertayammum. Yang tiga itu adalah bila sakit, dalam perjalanan dan tidak adanya air.
          'Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata dalam bukunya Ar Raudhah An Nadiyah; Telah banyak kesalahan dalam menafsirkan surat Al Maidah ayat 6 ini. Sedangkan tafsir yang benar adalah batasan tidak ada air itu merujuk pada firman Allah; "Atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan". Dengan demikian maka alasannya disini ada tiga; sakit, dalam perjalanan, dan tidak adanya air saat tidak berada dalam perjalanan.
         Dia berkata; ini jelas sekali bisa kita lihat pada orang yang mengatakan; Sesunggunya batasan (qaid) jika dia jatuh setelah kalimat yang bersambung maka dia menjadi batasan pada kata yang terakhir. Sedangkan orang yang mengatakan bahwa ini menjadi pembatas pada semuanya, kecuali jika ada yang melarang, maka demikianlah yang terjadi disini. Sebab disini telah didapatkan penghalang batasan sakit, dan perjalanan setelah adanya air. Yakni setiap satu dari keduanya memiliki alasan (udzur) yang terpisah dalam bab selain bab ini, seperti dalam puasa. Ini dikuatkan oleh hadits-hadits tayammum yang mutlak dan dibatasi dengan kata tidak dalam perjalanan.
       Inilah yang dikatakan oleh penulis Ar Raudhah An Nadiyah.
Dia adalah seorang yang memiliki pemikiran yang independen bebas dari taklid. Bahkan dalam hal ini dia memiliki pendapat yang berbeda dengan syaikhnya Imam Asy Syaukani. Ini dia lakukan jika dalil yang ada didalam Al Qur'an jauh lebih jelas dan lebih kuat daripada madzhab dan pendapat para fuqaha dan takwil para ulama.
    Allamah Rasyid Ridha menukil dari gurunya Imam Muhammad Abduh mengenai tafsir ayat diatas; maknanya adalah bahkan hokum orang yang sakit dan musafir (dalam perjalanan) jika mereka akan shalat maka hukumnya adalah laksana seorang yang sedang berada dalam hadats kecil atau berhubungan dengan isterinya kemudian mereka tidak mendapatkan air. Maka atas mereka itu dibenarkan untuk bertayammum saja. Inilah yang dipahami oleh para pembaca dari ayat diatas jika dia tidak membebani dirinya dengan madzhab yang berada dibelakang Al Qur'an yang menjadikannya melakukan sikap-sikap yang dibuat-buat yang akhirnya mengenai dirinya sendiri. Saya telah membaca sebanyak lima belas tafsir namun tidak saya dapatkan sesuatu yang memuaskan dan tidak saya dapatkan pula pendapat yang lepas dari berlebih-lebihan. Lalu saya kembali pada Al Qur'an itu sendiri ternyata saya dapatkan maknanya demikian jelas dan gamblang.
Sebab Al Qur'an adalah kalam yang paling jelas, paling baligh dan paling gampang dimengerti. Bagi yang mengerti bahasa Arab dari sisi kosa kata dan uslubnya dia tidak membutuhkan pada sesuatu yang dibuat-buat dalam ilmu gramatikal bahasa Arab dan lainnya dari ilmu bahasa bagi mereka yang hafal hokum-hukumnya dari berbagai buku yang walaupun dia sendiri tidak mengerti secara optimal ilmu balaghah. Dan selanjutnya dari apa yang dia katakan dalam pengingkarannya terhadap para mufassir yang menganggap bahwa dalam ayat ini ada sebuah kesulitan (musykilat) karena apa yang ada tidak sesuai dengan madzhab mereka secara gambling yang memiliki kadar kelemahan dalam bentuk dan pengulangan. Hal ini sangat berbeda dengan uraian Al Qur'an yang fasih dan baligh.
        Syeikh Rasyid Ridha berkata; Jika Imam Muhammad Abduh telah merujuk pada lima belas tafsir dengan harapan dia mendapatkan pendapat yang tidak terlalu dibuat-buat, maka sesungguhnya saya ketika menulis tafsir ayat itu tidak merujuk kecuali pada tafsir Ruh Al Ma'ani salah satu tafsir terakhir yang kini banyak beredar, dan pengarangnya memiliki wawasan dan bacaan yang luas. Penulisnya berkata; Ayat ini sesungguhnya merupakan mu'dhalat (sesuatu yang tidak gampang dicerna) dari Al Qur'an. Demi Allah sesungguhnya ayat ini tidak mu'dhalat tidak pula musykilat kecuali bagi orang-orang yang terpaku kepada riwayat dan istilah. Juga bagi mereka yang menjadikan madzhab baru selain Al Qur'an sebagai sandaran dalam agama, maka mereka akan menghadapkan Al Qur'an pada keadaan itu. Jika sesuai dengannya tanpa ada kesulitan yang memberatkan atau dengan sedikit kesulitan maka mereka akan sangat gembira dan jika tidak maka mereka akan menganggapnya sebagai yang sulit dimengerti. Padahal kaidah yang dikenal dan pasti dari manusia yang diturunkan Al Qur'an kepadanya dan dari khulafaur-rasyidin adalah bahwa sesungguhnya Al Qur'an itu sebagai kaidah dasar (pondasi) dari agama ini dan hukum Allah hendaknya dicari lebih dahulu didalamnya maka jika ada didalamnya itulah yang diambil dan tidak dibutuhkan sesuatu yang lain. Jika tidak didapatkan maka hendaknya dicarikan dari sunnah Rasulullah. Cara inilah yang Rasulullah lakukan saat mengutus Mu'adzbin Jabal ke Yaman. Dan dengan cara ini pula para khulafa', tabi'in dan para imam senantiasa menasehatkan. Para pembaca telah dapatkan bahwa dalam ayat ini tidak ada sesuatu yang tidak jelas dan tidak ada kesulitan.
        Demikianlah pendapat para ulama mengenai makna ayat ini; Shadiq Hasan Khan, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan para pengikut mereka dari kalangan ulama masa kini. Pendapat mereka tak diragukan adalah pendapat yang sangat sesuai dengan balaghah (seni bahasa) Al Qur'an dan sesuai dengan sesuatu yang tidak mengikat dirinya dengan pandangan sebelumnya atau dengan pandangan yang berlebihan sebelum membacanya langsung.
        Sedangkan pandangan jumhur ulama salaf dan khalaf, mereka tidak beranggapan hanya sakit dan dalam perjalanan saja dan secara khusus perjalanan yang dibolehkan untuk tayammum, namun konteksnya disini adalah pada ketidakadaan air. Baik dalam kondisi sehat ataupun dalam kondisi sakit, baik sedang berada ditempat atau sedang dalam perjalanan. Inilah yang disepakati oleh semua madzhab. 

D. Makna Tidak Ada Air

Ada pertanyaan yang muncul. Apa batasan bolehnya bertayammum bagi seorang yang tidak dalam perjalanan (musafir)? Apakah ketidakadaan air saat akan melangsungkan shalat, sebagai tampak dalam ayat ini, atau ketidakadaan air setelah mencari secara khusus sebagaimana disyaratkan oleh sebagian mereka bahwa air harus dicari pada semua arah sepanjang satu mil atau menunggu hingga akhir waktu, hingga tidak tersisa waktu kecuali hanya sebatas menunaikan shalat setelah tayammum?
        Pandangan yang tepat disini adalah apa yang cocok pengertian ketidakadaan air yang terikat dengan upaya mendirikan shalat. Jika waktu shalat telah tiba, dan orang  yang akan shalat mau melakukannya, kemudian dia tidak dapatkan air untuk berwudhu atau untuk mandi dirumahnya atau dimesjid atau ditempat yang mendekati itu, maka itulah sebagai alasan dia bisa bertayammum.   
         Bukan maksud ketidakadaan air disini tidak menemukannya setelah mencari kemana-mana dan bertanya kesana kemari. Namun maksudnya adalah tidak memiliki ilmu pengetahuan atau keyakinan adanya air itu pada saat itu.
Dan tidak mungkin baginya untuk mendapatkannya dengan cara membeli dan yang serupa dengannya. Ini bisa dikatakan bahwa dia tidak mendapatkan air, dalam pengertian ahli bahasa. Sedangkan kewajiban kita adalah menempatkan firman Allah seperti ini jika tidak ada penjelasan syar'i.
          Apa yang kita sebutkan ini bisa kita dapatkan dari apa yang dilakukan Rasulullah. Sesungguhnya Rasulullah telah bertayammum di Madinah di tembok sebagaimana yang tersebut dalam shahih Al Bukhari dan Muslim tanpa harus bertanya dan tidak mencari air kemana-mana. Dan tidak ada keterangan apapun bahwa Rasulullah mencari air kesana kemari yang bisa dijadikan sebagai hujjah.
          Indikasi bahwa Rasulullah tidak mencari air kemana-mana ini juga menunjukkan ketidakwajiban menunggu hingga akhir waktu.
           Asy Syaukani menyebutkan dalam As Sail Al Jarrar; Kewajiban untuk mencari air hingga akhir waktu shalat tidak ada dalil apapun yang menunjukkan tentang itu baik dari Al Qur'an, Sunnah, Qiyas ataupun Ijma'.
            Dia berkata; Ini bisa ditunjukkan oleh hadits Abu Said saat dia berkata; Dua orang lelaki melakukan perjalanan. Pada saat itu waktu shalat tiba sementara keduanya tidak memiliki air lalu keduanya bertayammum dengan tanah yang baik lalu melakukan shalat. Kemudian setelah itu keduanya mendapatkan air dan mereka masih berada dalam waktu shalat yang dia lakukan sebelumnya. Maka salah seorang diantara mereka berdua mengulangi shalatnya dengan berwudhu sementara yang satu lagi tidak melakukannya.
Lalu mereka berdua menemui Rasulullah dan memberi tahu apa yang mereka lakukan. Maka Rasulullah bersabda kepada yang tidak mengulang shalatnya;  

اَصَبْتَ السنةَ وَاَجْزَاَتْكَ صَلاَتك, وقال لِْلاخرِ لَكَ اْلاَجْرُمَرَّتَيْنِ

"Kau telah melakukan sesuatu sesuai sunnah dan shalatmu diganjar". Dan dia bersabda pada yang berwudhu kembali dan mengulangi shalatnya; "Sedangkan bagimu ada dua ganjaran".(HR Abu Daud dan An Nasai).
        Asy Syaukani berkata; Hadits ini merupakan bantahan terhadap orang yang mewajibkan mengulang shalatnya jika didapatkan air dalam waktu shalat yang dilakukan.
        Tidak diragukan bahwa sabdanya yang menyebutkan "Kau telah melakukan sesuatu sesuai dengan sunnah" bisa dipahami bahwa yang satunya melakukan sesuatu tidak sesuai dengan sunnah, namun dia mendapatkan ganjaran dua kali karena dia melakukan shalat dua kali. Dan dia diganjar setiap kali melakukan shalat itu walaupun dia salah dalam melakukan shalat yang kedua kalinya. Namun demikian dia diganjar karena dia salah dalam ijtihadnya. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam sebuah hadits; "Sesungguhnya seorang hakim yang berijtihad dan dia benar dalam ijtihadnya maka dia akan mendapatkan dua pahala, dan jika salah maka dia akan mendapatkan satu pahala".

 Adanya Hambatan Hingga Tidak Sampai ke Tempat Air

Mungkin saja air itu ada, namun disana ada hambatan yang menghalangi untuk sampai keair itu. Seperti musuh yang ganas, binatang buas yang sangat menakutkan, atau sipir penjara yang akan menangkapnya atau hal-hal yang serupa dengan itu. Pada kondisi demikian keberadaan air itu dianggap sama dengan tidak adanya. Dia ada secara hakikat namun secara de jure tidak ada.
        Seperti berada dalam kepungan musuh atau tahanan musuh.
Disana ada air namun jeruji penjara menghambat untuk sampai ke tempat air.

Kebutuhan untuk Minum

Mungkin pula air itu ada dan tidak ada penghalang untuk sampai padanya. Namun dia sangat membutuhkan air itu untuk sesuatu yang lebih penting daripada wudhu dalam pandangan syariah. Seperti untuk minum dirinya atau untuk minum orang lain, atau untuk minum binatang. Seperti domba, sapi, keledai dan anjing. Karena mereka adalah binatang-binatang yang tidak bisa hidup tanpa air. Dengan demikian kebutuhan mereka sama dengan kebutuhan manusia.
          Sebab dikedepankannya minum atas wudhu, padahal menjaga agama itu adalah sebuah keharusan dan menjaga jiwa dan kehidupan itu juga merupakan keharusan. Bahkan keharusan menjaga agama didahulukan daripada keharusan menjaga kehidupan. Oleh sebab itulah seseorang mengurbankan jiwanya pada saat jiwa demi agamanya. Namun disini dilakukan karena wudhu ada gantinya yang berupa tayammum sementara air tidak ada gantinya bagi orang yang sedang kehausan. Ini merupakan sebuah bentuk keindahan dalam syariat.
         Dan yang serupa dengan minuman adalah segala sesuatu yang mesti, seperti adonan, masakan yang sangat dibutuhkan.

Adanya Kekhawatiran Saat Menggunakan Air

        Diantara yang membolehkan seseorang bertayammum adalah adanya kekhawatiran seseorang jika menggunakan air. Sebab dalam Islam tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan membahayakan. Dan Allah tidak membuat kesulitan dalam agama.
       Dalam ayat tayammum disebutkan bahwa sakit merupakan salah satu sebab yang karenanya seseorang boleh bertayammum.
Allah berfirman; "Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir" (An Nisaa": 43 dan Al Maidah: 6). Maka seseorang yang sakit dan akan menimbulkan bahaya jika dia memakai air atau membuat lukanya akan semakin parah, atau kesembuhannya menjadi terhambat, atau sakitnya akan bertambah, atau seseorang yang sehat namun khawatir sakit jika menggunakan air pada kondisi sangat dingin, semuanya boleh saja bertayammum sebagai pengganti dari wudhu dan mandi.
        Dalilnya adalah hadits Amr bin Al Ash tatkala dia diutus oleh Rasulullah dalam perang Dzat As Salasil. Pada suatu malam yang sangat dingin dia mimpi basah. Lalu dia bertayammum dan menjadi imam shalat bagi sahabat-sahabatnya. Tatkala mereka kembali dari perang itu mereka mengabarkan itu kepada Rasulullah. Rasulullahpun bersabda; "Wahai Amr apakah kau menjadi imam shalat untuk sahabat-sahabatmu sedangkan engkau sedang dalam keadaan junub?" Maka Amr bin Al Ash berkata; "sebab saya ingat terhadap firman Allah yang berbunyi; "Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu" (An Nisaa': 29) makanya saya bertayammum kemudian shalat".
Mendengar jawaban itu Rasulullah tertawa dan tidak mengatakan apa-apa.
      Hadits ini dikuatkan hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud pada bab "orang yang luka bertayammum", yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dia berkata; Kami melakukan perjalanan, kemudian seseorang yang terkena batu yang membuat kepalanya luka. Kemudian setelah itu dia mimpi basah. Lalu dia menanyakan pada sahabat-sahabatnya tentang masalah itu. Dia berkata; Apakah kalian dapatkan keringanan bagi saya untuk bertayammum? Mereka berkata; Kami tidak dapatkan keringanan untuk bertayammum sedangkan engkau mampu menggunakan air! Maka diapun mandi. Lalu dia meninggal dunia. Maka tatkala kami dating menemui Rasulullah, lalu beliau diberi tahu tentang peristiwa itu. Maka Rasulullah bersabda; "Mereka telah membunuhnya, Allah akan membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya jika tidak tahu?! Sesungguhnya obat ketidaktahuan itu adalah bertanya. Sesungguhnya bagi dia itu cukup dengan bertayammum, kemudian dia membalut lukanya dengan secarik kain dan mengusap diatasnya lalu memcuci seluruh badannya".
        Syeikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih hingga sabdanya "Sesungguhnya bagi dia itu cukup dengan bertayammum", yang merupakan dalil dari hadits ini tentang kebolehan bertayammum bagi seseorang yang terkena luka dan yang serupa dengannya yang dikhawatirkan dengan menggunakan air akan semakin membuat bahaya.

Bertayammum Karena Khawatir Kelewatan Waktu Jika Mandi

Diantara Yang membolehkan tayammum walaupun ada air adalah adanya kekhawatiran lewatnya waktu jika mandi, khususnya jika masih harus memasak air. Ini sering terjadi pada waktu shalat subuh daripada yang lainnya. Mereka membedakan antara seseorang yang pada saat bangun, fajar baru menyingsing dan dia tidak bisa mandi, dengan seseorang yang pada saat bangun matahari telah hampir menyingsing dan jika mandi maka waktunya akan lewat. Mereka membolehkan tayammum untuk orang yang pertama dan tidak bagi yang kedua.
        Ibnu Taimiyah berkata; Jika waktu shalat tiba seperti menyingsing fajar dan tidak mungkin baginya mandi untuk melakukan shalat hingga matahari terbit, mungkin karena airnya jauh, tempat mandinya tertutup, atau karena dia fakir dan dia tidak mampu membayar sewa tempat mandi maka yang demikian ini boleh bertayammum dan melakukan shalat pada saat itu juga dan tidak usah menunda shalat agar waktunya tidak lewat. Sedangkan jika dia bangun dan waktunya sangat sempit untuk mandi, jika airnya ada maka hendaknya mandi dan shalat setelah terbitnya matahari. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian besar ulama. Sebab waktu pada saat dia bangun adalah haknya. Ini berbeda dengan seorang yang tidak tidur, karena sesungguhnya waktunya adalah pada saat fajar menyingsing.
        Dan hendaknya seseorang shalat pada waktunya. Tidak boleh bagi seseorangpun untuk mengakhirkan dari waktu yang telah ditentukan. Baik karena adanya udzur atau tidak. Namun hendaknya dia shalat sedapat mungkin pada waktunya.

Sarana Bertayamum

Diantara bahasan tayammum adalah apa alat yang digunakan dalam bertayammum?

Jawabannya adalah dengan "tanah yang baik (bersih)" sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al Qur'an; "Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu". (Al Maidah:6)
            Namun disana terjadi perbedaan pendapat mengenai pengertian "tanah yang baik (bersih)".
            Diantara fuqaha ada yang berpendapat bahwa yang disebut dengan "sha'id" dalam ayat itu adalah tanah dan tidak boleh bertayammum kecuali dengannya. Ini adalah pandangan Imam Asy Syafi'i, Ahmad dan Dawud. Ini juga merupakan pendapat kalangan ahli bahasa. Pendapat ini juga diperkuat oleh sebuah hadits shahih dalam shahih Muslim dari Hudzaifah; "Telah dijadikan bagiku bumi itu mesjid dan tanahnya adalah suci".
         Abu Hanifah, Malik dan murid keduanya, Atha', Al Awza'i dan Ats Tsauri berkata; yang disebut dengan "sha'id" adalah semua jenis bumi, berupa tanah, pasir, batu, kapur dan marmer. Bahkan Imam Malik berkata; juga termasuk es.
        Madzhab Hanafi menafsirkan "jenis bumi" sebagai sesuatu yang tidak rusak dan tidak melelehkan karena api.
          Sedangkan sesuatu yang meleleh dan rusak karena api, atau terbakar hingga menjadi debu, maka dia tidak termasuk dari jenis bumi.
        Madzhab Malik membolehkan bertayammum dengan menggunakan barang-barang tambang kecuali barang-barang berharga seperti emas, perak dan permata seperti yaqut dan zamrud. Boleh dengan besi, timah hitam, batu serawak, alcohol, garam dan yang serupa dengannya jika tempatnya berada didalam bumi dan belum beralih tangan menjadi milik manusia.
        Mereka mendasarkan pendapatnya ini pada apa yang dikatakan oleh sebagian ahli bahasa juga. Bahwa yang dimaksud dengan "sha'id" itu adalah bagian luar bumi baik tanah atau bukan. Penggunaan Al Qur'an kata "sha'id" mungkin menunjukkan pada hal ini; "Tanah yang licin" (Al Kahfi: 40) dan; "Tanah rata lagi tandus" (Al Kahfi: 8)
           Pendapat ini juga diperkuat oleh perbuatan Rasulullah saat ia bertayammum ditembok, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang disepakati bahwa ia adalah shahih. Yang bisa kita lihat bahwa tembok itu tidak ada debu diatasnya, walaupun dia dibuat dari bata, seperti biasanya.
        Ada hadits-hadits yang menunjukkan kekhususan Rasulullah dalam berbagai riwayat dengan lafazh; "Dan telah dijadikan bagiku bumi mesjid dan suci".
        Sementara itu Ahmad dan Asy Syafi'i mendasarkan pendapatnya atas firman Allah yang berbunyi; "sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu". (Al Maidah: 6). Kata "minhu" menunjukkan pada sebagian dan sangat tidak mungkin untuk menyapu dengan sebagian batu atau dengan sebagian pohon. Dengan demikian maka bisa dipastikan bahwa alat untuk mengusap itu adalah tanah atau sesuatu yang serupa dengan tanah seperti pasir dan lainnya.
         Bagi mereka yang tidak setuju boleh saja berkata; Sesungguhnya firman Allah; "Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu" bias diartikan bahwa itu biasanya yang dulakukan dalam tayammum, yakni menggunakan tanah atau pasir dan yang serupa dengannya yang bisa diletakkan ditangan.
         Barang siapa yang melihat pada realitas dan kebutuhannya, maka akan tampak baginya bahwa tanah sampai pasir sekalipun tidak mudah baginya mendapatkannya dalam beberapa kesempatan. Bahkan sangat sulit didapat. Yang paling gampang didapatkan adalah benda-benda jenis bumi seperti semen, keramik, marmer, dan batu ubin dan yang serupa dengannya. Inilah saya alami dalam beberapa kesempatan.

Tayammum Sebagai Pengganti Wudhu dan Mandi

        Sudah kita ketahui bahwa sesungguhnya tayammum itu atau yang sering disebut oleh ulama sebagai "bersuci dengan tanah" itu adalah pengganti "bersuci dengan air" baik untuk bersuci kecil (wudhu) bersuci besar (mandi). Tayammum menggantikan posisi keduanya.
       Oleh karena itu siapa saja yang mau menelaah dan mentadabbur kedua ayat yang mulia yang menyebutkan tentang tayammum, maka dia akan dapatkan ini secara gamblang. Dimana Allah berfirman; "Atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau meyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)", maka firmanNya; "Atau kembali dari tempat buang air (kakus)", merupakan metafora dari hadats kecil (kencing dan buang air besar dan yang semakna dengan ini).
Sedangkan firman Nya; "Atau menyentuh perempuan", merupakan metafora dari hadats besar (berhubungan badan dan yang semakna dengan ini). Allah menggunakan metafora dalam kedua hadats ini dengan ungkapan bahasa yang sangat tinggi untuk memberikan pelajaran kepada kita tatakrama bicara mengenai masalah ini. Oleh sebab itulah Ibnu Abbas berkata; sesungguhnya Allah itu Mahahidup dan Maha Pemurah, dia memberikan metafora sesuatu yang Dia sukai dengan apa yang Dia sukai. Menyentuh dalam ungkapan Al Qur'an adalah metafora dari ijma'.
         Dengan demikian maka ayat tersebut menunjukkan bahwa tayammum itu berlaku untuk kedua hadats, kecil dan besar. Inilah yang ada dalam berbagai hadits shahih dari Rasulullah, walaupun apa yang dikemukakan ini bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh dua tokoh penting sahabat, yakni Umar dan Ibnu Mas'ud.
     Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Syaqiq bin Salamah dan lafazhnya dari Muslim dia berkata; saya duduk bersabda Abdullah bin Mas'ud dan Abu Musa Al Asy'ari. Maka berkatalah Abu Musa; Wahai Abu Abdurrahman bagaimana pendapatmu jika seorang laki-laki junub dan dia tidak mendapatkan air selama sebulan, bagaimana dia melakukan shalat? Maka berkatalah Abdullah; Janganlah dia bertayamum walaupun dia tidak mendapatkan air selama sebulan!
        Dalam riwayat Al Bukhari disebutkan; Janganlah dia shalat hingga dia dapatkan air! Maka berkatalah Abu Musa; Lalu bagaimana pendapatmu tentang ayat dalam surat Al Maidah; "Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)", (Al Maidah:6). Maka Abdullah berkata; Jika diringankan kepada mereka dalam ayat ini, maka bisa saja, jika air terasa dingin bagi mereka maka mereka akan bertayammum dengan menggunakan tanah. Maka berkatalah Abu Musa kepada Abdullah bin Mas'ud. Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan oleh Ammar; Rasulullah mengutusku untuk sebuah keperluan lalu saya junub dan tidak saya dapatkan air. Saya lalu berguling-guling ditanah sebagaimana bergulingnya binatang. Kemudian saya menemui Rasulullah dan saya ceritakan apa yang telah saya lakukan; Maka Rasulullah bersabda; "Sesungguhnya cukuplah bagimu dengan mengusapnya seperti ini". Kemudian Rasulullah memukulkan kedua tangannya dibumi sekali pukulan lalu dia mengusapkan tangan kirinya pada tangan kanan dan bagian luar telapak tangan dan wajahnya. Abdullah berkata; Tidakkah kau lihat bagaimana Umar tidak puas apa yang dikatakan oleh Ammar?

        Imam Al Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan lafazh yang lebih pendek dari Syaqiq dan didalamnya satu tambahan yang sangat penting. Syaqiq berkata; Saya berada disisi Abdullah bin Mas'ud dan Abu Musa. Maka berkatalah Abu Musa kepada Abdullah bin Mas'ud; Jika ada seseorang yang junub dan dia tidak dapatkan air apa yang mestinya dia lakukan? Maka Abdullah bin Mas'ud berkata; Janganlah dia shalat hingga dia dapatkan air! Maka Abu Musa berkata; Maka apa yang bisa kamu lakukan dengan perkataan Ammar tatkala Rasulullah berkata; "Cukuplah bagimu"! Abdullah berkata; Tidakkah kau lihat bagaimana Umar tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh Ammar? Maka Abu Musa berkata; Biarkanlah kami dengan apa yang dikatakan oleh Umar, lalu apa yang bisa kamu lakukan dengan ayat tadi? Abdullah bin Mas'ud tidak tahu apa yang harus dia katakan. Maka akhirnya dia berkata, sesungguhnya jika kita memberi keringanan kepada mereka, maka bisa saja jika air terasa dingin bagi salah seorang diantara mereka dia akan bertayammum. Maka saya katakana kepada Syaqiq, apakah Abdullah bin Mas'ud tidak menyukai ini dengan alasan tadi? Dia berkata, ia.
        Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Abzi bahwa seorang laki-laki datang menemui Umar seraya berkata: sesungguhnya saya junub dan saya tak dapatkan air. Maka Umar berkata: janganlah kamu shalat. Maka Ammar berkata: tidakkah engkau ingat wahai Amirulmukminin? Tatkala engkau dan aku berada dalam ekspedisi perang dan kita tidak dapatkan air. Engkau waktu itu tidak shalat sedangkan aku bergulingan ditanah dan shalat. Saat itulah Rasulullah bersabda: "sesungguhnya cukuplah bagimu menepukkan kedua tanganmu keatas tanah lalu ditiup, kemudian usaplah wajah dan kedua telapak tanganmu dengan kedua tanganmu". Maka Umar berkata: bertakwalah kamu kepada Allah wahai Ammar. Dia berkata: jika aku suka maka aku tidak meriwayatkan hadits itu. Dalam sebuah riwayat, Ammar berkata: wahai Amirulmukminin! Jika aku mau, jika Allah jadikan ini sebagai hakmu atasku, maka aku tidak akan meriwayatkan hadits ini pada seseorang. Maka Umar berkata dalam sebuah riwayat, kami serahkan kepadamu apa yang kamu lakukan.
        Al Hafizh ibnu Hajar berkata: dengan demikian maka jelaslah alas an Umar sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, sedangkan Abdullah bin Mas'ud tidak ada alasan untuk tidak menerima hadits Ammar. Oleh sebab itulah disebutkan bahwa dia menarik fatwanya itu kemudian.

Hal-hal yang dibolehkan dengan Tayammum

Tayammum bisa membuat seorang muslim boleh melakukan apa saja yang dibolehkan bagi orang yang punya wudhu seperti melakukan shalat fardhu, shalat sunnah atau shalat jenazah.
        Sebagaimana boleh baginya untuk melakukan thawaf di Baitullah, memegang Al Qur'an, membaca Al Qur'an, dzikir kepada Allah. Hingga bagi orang yang tidak mewajibkan untuk masalah-masalah diatas karena sesungguhnya disunnahkan untuk mengambil wudhu yang berarti pula disunnahkan untuk bertayammum.
        Sebagaimana ini telah disebutkan dalam hadits Abu Al-Jahm bin Al-Harits bin Ash-Shamit Al-Anshari, dia berkata: Rasulullah dating dari sumur Jamal-sebuah tempat dekat Madinah, saat itulah seseorang berjumpa dengannya dan orang itu mengucapkan salam padanya namun Nabi tidak menjawabnya hingga dia menghadap tembok lalu mengusap muka dan kedua tangannya. Lalu dia menjawab salam orang itu.
        Dalam beberapa riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: Saya tidak ingin menyebut nama Allah kecuali saya berada dalam keadaan suci.
        Dengan demikian boleh bagi seseorang yang bertayammum semua hal yang boleh dilakukan oleh orang yang berwudhu dan mandi bagi mereka yang tidak mendapatkan air.
Dia bisa melakukan berbagai macam shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Tayammum itu tidak batal karena seseorang melakukan shalat, atau karena ia sibuk dengan sesuatu yang lain atau karena keluarnya waktu. Inilah pandangan yang benar.
        Sedangkan perbedaan pendapat mengenai masalah ini sudah demikian diketahui. Sedangkan dalil-dalil yang mewajibkan tayammum karena ketidakadaan air tertera dalam Al Qur'an dan sunnah.
        Ad-Dahlawi berkata dalam bukunya Al-Hujjah Al-Baligah: Tidak saya dapatkan dalam hadits shahih yang menunjukkan bahwa seorang yang bertayammum harus bertayammum setiap kali akan melakukan shalat fardhu.

Sebab Rasulullah bersabda:

الَصَّعِيْدُ وُضُوْءُ المسلمِ واِنْ لم يجدِالماء عشرَسنين, فااذا وجد الماء فليتَّقِ اللهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ

"Tanah yang baik itu adalah wudhu seorang muslim jika dia tidak mendapatkan air walaupun sampai masa waktu sepuluh tahun. Dan apabila sudah menjumpai air, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan hendaklah ia menyentuh air itu pada kulitnya"(HR Al Bazzar dan dinilai shahih oleh Ibnul Qathan).

 Rasulullah menamakan tayammum dengan wudhu, sebab dia memiliki posisi laksana wudhu.

Cara Bertayammum

Dari hadits-hadits yang telah dikemukakan diatas dapatlah kita simpulkan bahwa tayammum itu adalah sekali tepukan ketanah yang kemudian diusapkan kewajah dan kedua tangan hingga kedua pergelangan. Walaupun ada sebagian imam yang berpendapat bahwa tayammum itu dua kali tepukan, dan diusapkan pada wajah dan kedua tangan hingga kedua belah siku.
        Asy-Syaukani berkata: Telah disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah melakukan itu dan dia mengajarkannya pada orang lain. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dan lainnya dari riwayat Ammar bahwa Rasulullah bersabda padanya: "Sesungguhnya cukuplah bagimu" kemudian dia memukulkan telapak tangannya ke bumi lalu meniupnya dan mengusapkan pada wajah dan kedua telapak tangannya.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam bukhari dan Muslim:

"Dari mar Bin Yasar ia berkata: Nabi SAW mengutus saya untuk suatu keperluan, lalu saya junub dan tidak menjumpai air, lalu saya berguling-guling di tanah seperti binatang, kemudian saya mendatangi Nabi, lalu saya jelaskan hal itu kepadanya, lalu beliau bersabda: Cukuplah kamu berbuat dengan kedua tanganmu begini, kemudian beliau menepuk tangan satu kali (mencontohkan), kemudian beliau mengusap yang kiri atas yang kanan, punggung kedua telpak tangannya dan mukanya.(HR Bukhari dan Muslim).        
        Dari itu, bisa kita nyatakan bahwa semua hadits shahih tidak menyebutkan kecuali sekali tepukan untuk wajah dan kedua telapak tangan. Sedangkan semua yang menyebutkan dua kali tepukan atau menyebutkan bahwa mengusapnya itu hingga kedua siku tidak lepas dari kelemahan, menjadikannya sebagai dalil yang tidak kuat dan tidak boleh diamalkan. Hingga ada yang menaggapi bahwa pendapat itu mengandung kelebihan, dan kelebihan itu wajib diterima. Sedangkan kewajiban yang sebenarnya adalah mencukupkan diri dengan hadits-hadits yang shahih.

Dengan  demikian para ulama menetapkan bahwa rukun tayammum itu meliputi: niat, mengusap wajah dan kedua telapak tangan dengan sekali tepukan saja, dan hendaklah tanahnya tanah yang baik, yakni suci. 

Yang Membatalkan Tayammum

 Adapun yang membatalkan tayammum adalah semua hal yang membatalkan wudhu. Artinya bahwa apapun yang membatalkan wudhu maka ia juga membatalkan tayammum.
        Maka barang siapa yang menyatakan bahwa ada sesuatu yang membatalkan selain itu, maka janganlah diterima kecuali dia bias mendatangkan dalil. Namun kami tidak mendapatkan dalil yang bias dijadikan hujjah untuk itu.
Maka kewajiban kita adalah membatasi hanya pada hal-hal yang membatalkan wudhu.
         Bias kita tambahkan disini hilangnya sebab yang membolehkan seseorang bertayammum. Seperti mendapatkan air setelah dia tidak mendapatkannya sebelumnya. Atau dia mampu untuk menggunakan air setelah sebelumnya dia tidak sanggup melakukan itu. Atau bahaya memakainya telah sirna. Atau dia mampu menghangatkan air setelah sebelumnya dia tidak mampu menghangatkannya, dan seterusnya. Oleh sebab itu ada semacam ungkapan yang menyebar dikalangan kaum muslimin: Jika air tiba maka batallah tayammum. Sebab tayammum itu sebagai pengganti air. Maka jika yang digantikan telah ada, gugurlah yang menjadi penggantinya.


Posted at 07:56 pm by febri78
Make a comment  

Fiqih Thaharoh - NIFAS

NIFAS

Oleh : Ustd. Idrus Yusuf

Disajikan pada Kajian Fiqih Taharah

Kerjasama Lembaga Amil Zakat Izzatul Muslim (Lazim) dengan  LSI- Al Falah

 

Nifas adalah darah yang keluar dari faraj perempuan setelah ia melahirkan, termasuk yang keguguran, baik darahnya sedikit maupun banyak.

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah menamakan haid itu dengan nifas tatkala dia bersabda kepada Aisyah saat dia haid: "Apakah kau sedang nifas?". Dengan demikian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya sampai-sampai pada namanya. Ini merupakan rahmat bagi kaum wanita dimana pada saat mereka melahirkan mereka mendapatkan keringanan, sebagaimana mereka mendapatkan keringanan pada saat haid. Allah berfirman surat Luqman ayat 14:

"Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah lemah".

Dan firman Allah surat Al Ahqaf ayat 15:

"Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Ini semua mengisyaratkan derita para ibu dan kesulitan yang mereka alami saat hamil dan melahirkan. Maka menjadi hikmah Allah dan karuniaNya untuk memberi keringanan pada seorang ibu yang melahirkan dengan menggugurkan sebagian kewajiban dan menggugurkan hak suaminya dalam menggaulinya hingga pulih seperti sediakala.

 

Jangka Waktu

Nifas tidak memiliki batas minimal. Bahkan sampai ada yang mengatakan: sesungguhnya jika seorang wanita melahirkan dan dia tidak mengeluarkan darah maka hendaknya dia mandi dan shalat. Sedangkan batasan maksimal adalah empat puluh hari. Berdasarkan hadits Ummu Salamah r.a, katanya:

.

"Di masa Rasulullah saw perempuan-perempuan yang nifas itu tinggal duduk saja, tidak beribadat selama 40 hari".(HR Khamsah kecuali Nasa'i).

 

Ummu Salamah juga menambahkan: Wanita-wanita yang nifas pada masa Rasulullah duduk saja tidak beribadah selama empat puluh hari, kami meluluri wajah kami dengan waras (jenis tumbuhan), yang berwarna merah.

Yang dimaksud dengan wanita di masa Rasulullah di sini adalah wanita dimasanya, yakni para sahabat dari kalangan wanita, tidak termasuk istri-istri Rasul, sebab isteri-isteri Rasulullah tidak ada yang melahirkan setelah Khadijah.

Darah yang keluar setelah empat puluh hari tidak dianggap darah nifas tetapi sudah darah kotor atau darah istihadhah. Dan jenis darah ini tidak menghalangi seorang perempuan untuk shalat atau melakukan hubungan badan dengan suaminya.

Madzhab Asy Syafi'i menyebutkan bahwa batas maksimal wanita nifas itu adalah enam puluh hari. Namun pendapat yang mengatakan empat puluh hari adalah madzhab jumhur ulama yang dipandang mu'tamad (lebih dipegang).

 

Hal-hal yang Terlarang Bagi Perempuan Haid dan Nifas

Perempuan-perempuan haid dan nifas sama dengan orang junub dalam hal yang terlarang sebagaimana yang telah kita kemukakan.

Di antara yang terlarang itu adalah:

 

1.  Puasa

Perempuan haid dan nifas itu tidak boleh berpuasa. Dan mereka wajib mengqadha puasa bulan ramadhan selama hari-hari haid dan nifas tersebut, berbeda dengan shalat yang tidak wajib diqadha dengan maksud menghindarkan kesulitan, karena shalat itu berulang-ulang dan tidak demikian dengan berpuasa. Hal itu berpedoman kepada hadits Abu Sa'id Al Khudri r.a katanya:

 

: , : : . ! : : , : : , : .

"Rasulullah saw pergi ke tempat shalat di waktu Hari Raya Adha dan Fitri, dan melewati kaum wanita. Maka ia bersabda: Hai golongan wanita! Bersedekahlah kalian karena saya lihat Tuan-tuanlah penduduk yang terbanyak dari neraka! Kenapa wahai Rasulullah? Tanya mereka. Ujar Nabi: Kalian banyak mengutuk dan ingkar kepada suami! Tak seorangpun yang saya lihat orang yang singkat akal dan kurang agamanya yang dapat mempengaruhi akal laki-laki yang teguh, melebihi kalian! Dimana letak kekurangan akal dan agama kami, ya Rasulullah? Ujarnya: Bukankah kesaksian wanita nilainya separuh dari kesaksian laki-laki? Betul, ujar mereka. Nah, itu adalah disebabkan kurangnya akal mereka! Dan bukankah bila mereka haid, tidak shalat dan tidak berpuasa? Benar, ujar mereka pula. Nah disanalah letak kurangnya agama mereka!".(HR Bukhari dan Muslim)

 

Mu'adzah berkata:

 

, : : .

"Saya bertanya kepada Aisyah r. a.: Kenapa wanita haid mengqadha puasa tapi tidak mengqadha shalat? Jawabnya: hal itu kami alami di masa rasulullah SAW. Kami hanya diperintah mengqadha puasa tidak mengqadha shalat".(HR Jamaah)

 

2. Bersenggama

Selain alasan Al-Quran dan Sunnah juga ijma' umat Islam sedunia sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang tentang haramnya berhubungan badan dengan wanita yang lagi haid dan nifas. Bahkan Imam Nawawi menghukum kafir dan murtad bagi orang-orang yang menghalalkan jima' dengan wanita yang sedang haid dan nifas. Tapi kalau seorang suami melakukan itu karena lupa atau karena tidak tahu bahwa hukumnya haram, maka ia tidak berdosa dan tidak wajib membayar denda atau kafarat. Sebaliknya, bila ia melakukan dengan sengaja padahal ia tahu perbuatan itu hukumnya haram, maka sipelakunya berdosa besar dan harus bertaubat kepada Allah.   

Anas Bin Malik dalam sebuah riwayat berkata:

 

, , ( , , ) : , , .

"Orang-orang Yahudi, bila perempuan-perempuan mereka sedang  haid mereka tidak mau makan bersama, dan tidak pula berkumpul besama. Hal itu ditanyakan oleh sahabat Nabi SAW, maka Allah turunkan ayat: "Mereka bertanya padamu tentang haid, katakanlah: bahwa itu kotoran makajauhilah, maka jauhilah perempuan-perempuan itu sewaktu haid, dan jangan dekati mereka sampai mereka suci. Dan jika mereka telah suci, maka boleh kamu menggauli mereka sebagaimana diperintahkan Allah. Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang taubat lagi mennyucikan diri".(QS Al-baqarah:222). Rasulullah SAW bersabda: lakukanlah segala sesuatu kecuali kawin. Di dalam lafadz yang lain: kecuali bersenggama".(HR Jamaah kecuali Bukhari).       

 

Kemudian sebuah riwayat dari isteri-isteri Nabi saw:

 

. ( , : )

"Bahwa Nabi saw bila menginginkan sesuatu dari isterinya yang sedang haid, maka ditutupnya sesuatu pada kemaluan isterinya itu". (H.R Abu Dawud. (Menurut Al Hafidh isnadnya kuat)

 

Dan dari Masruq ibnul Ajda', katanya:

 

: ǿ : .

"Saya tanyakan kepada Aisyah: "Apakah yang boleh dari laki-laki dari isterinya bila ia haid?" Ujarnya: "Segala apa juga, kecuali kemaluan". (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam buku Tarikhnya.


Posted at 07:46 pm by febri78
Make a comment  

Membuat Resume

Membuat Resume

Team e-psikologi

Jakarta, 10 Juni 2002

Resume atau riwayat singkat yang berisi pengalaman dan ketrampilan yang dimiliki oleh seseorang yang melamar sebuah pekerjaan amatlah menentukan bagi dipilih atau tidaknya si pelamar untuk masuk ke tahapan selanjutnya dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Resume yang dibuat dengan baik akan mempermudah pembacanya (baca: recruiter) dalam mengevaluasi qualifikasi yang dimiliki oleh si pelamar.

Pentingnya membuat resume yang dirancang secara khusus (bukan menjiplak model resume orang lain) seringkali tidak disadari oleh si pelamar. Dalam banyak kasus masih sering dijumpai bahwa pelamar justru menggunakan format resume yang sudah baku dengan cara membeli formulir resume yang dijual di toko-toko buku atau pun mendownload formulir yang terdapat di websites. Memang hal ini tidaklah sepenuhnya salah, namun demikian si pelamar hendaklah mempertimbangkan apakah format tersebut sudah cocok dengan karakter dirinya. Apa yang terjadi jika ternyata format baku tersebut, setelah diisi oleh pelamar, ternyata justru banyak menyisakan ruang kosong alias tidak dapat diisi semuanya. Bukankah hal demikian justru dapat menyebabkan si pelamar tampak penuh dengan kekurangan di mata si pembaca resume tersebut. Selain itu resume menjadi tidak enak untuk dilihat. Pertanyaan yang patut diajukan kemudian adalah bagaimana membuat resume yang baik sehingga menarik bagi pembaca dan mampu memberikan gambaran tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh sang pelamar. Lalu apa sebenarnya perbedaan antara Resume dan Curricullum Vitae (CV)?

Resume vs Curriculum Vitae

Secara singkat dapat dikatakan bahwa resume adalah kumpulan atau daftar yang menyangkut riwayat pendidikan dan pekerjaan/karir seseorang dengan penekanan pada keahlian, ketrampilan dan pengalaman yang dimilikinya. Sedangkan Curriculum Vitae adalah kumpulan atau daftar yang berisi riwayat pendidikan, pekerjaan, penghargaan/prestasi/gelar yang pernah diperoleh seseorang dan faktor-faktor lain yang dianggap berguna oleh orang tersebut selama hidupnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada beberapa faktor sebagai berikut:

No.

Faktor

Resume

CV

1.

Materi

Riwayat pendidikan dan pekerjaan/karir dengan penekanan pada keahlian, ketrampilan dan pengalaman yang dimiliki.

Riwayat pendidikan, pekerjaan, penghargaan/prestasi/gelar, yang pernah diperoleh seseorang, keanggotaan organisasi, hasil karya dan faktor-faktor lain yang dianggap berguna oleh seseorang selama hidupnya.

2.

Penggunaan

  • Untuk melamar pekerjaan dengan posisi atau jabatan yang menuntut pengalaman dan ketrampilan yang tinggi.
  • Seringkali digunakan untuk jabatan-jabatan pada level managerial
  • Pelamar pemula yang belum memiliki pengalaman kerja
  • Untuk melamar pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti Dosen, Guru, Peneliti, Wakil Rakyat, Militer.
  • Di Indonesia, CV merupakan salah satu alat yang digunakan untuk seleksi kenaikan jabatan atau yang dulu popular dengan nama "Litsus" untuk PNS
  • 3.

    Format

    Ditulis secara kronologis atau pun fungsional, atau bisa juga kombinasi keduanya

    Pada umumnya ditulis secara kronologis: pertama masuk sekolah sampai tingkatan terakhir, atau pertama kali bekerja sampai pekerjaan terakhir.

    4.

    Kedalaman Informasi

    Ruang lingkup Informasi yang disajikan terbatas tetapi sangat rinci dan mendalam

    Ruang lingkup Informasi yang disajikan banyak tetapi tidak secara rinci dan mendalam

    5.

    Informasi Pribadi

    Sangat jarang diikutsertakan, kecuali memang relevan dengan pekerjaan yang dilamar

    Memuat hal-hal pribadi seperti hobby, musik yang disukai, status perkawinan, kebangsaan, tinggi & berat badan, dll.

    6.

    Panjang

    1 ? 2 Halaman

    3 ? 4 halaman

    Meski keduanya memiliki perbedaan, namun dalam praktek seringkali perusahaan tidak dapat membedakan mana yang mereka butuhkan, apakah Resume atau CV. Oleh karena itu, pelamar haruslah jeli dalam melihat persoalan tersebut sebab bagaimanapun juga pada akhirnya pelamarlah yang harus menyesuaikan diri dengan perusahaan, bukan sebaliknya.

    Manfaat

    Dalam kompetisi memperebutkan pekerjaan ditengah-tengah situasi ekonomi yang tidak menggembirakan saat ini, di tambah lagi dengan banyaknya jumlah pencari kerja, tidak jarang para pengusaha (baca: orang yang mempekerjakan) harus meluangkan banyak waktu untuk menyeleksi para calon pekerja yang berkualitas. Mengingat bahwa satu jabatan yang lowong bisa dilamar oleh ratusan bahkan ribuan pelamar, maka pengusaha sangat mengandalkan resume pelamar untuk menyaring/menyeleksi mereka untuk dipanggil wawancara atau test dalam proses berikutnya. Dengan kondisi demikian maka pelamar yang tidak dapat membuat resume yang dapat menggambarkan kualitas dirinya dalam bentuk resume yang menarik, padat, dan lugas akan sangat kecil kemungkinannya untuk dipanggil. Alangkah sayangnya jika pelamar ternyata sangat menguasai bidang yang dilamarnya tetapi gagal hanya karena resume yang dibuatnya tidak berkenan di hati pengusaha/pembaca. Dengan membuat resume secara menarik, padat dan lugas si pelamar sebenarnya memperoleh manfaat yang sangat besar bagi dirinya karena ia telah mampu:

    • memberikan fakta-fakta tentang latarbelakang pelamar.
    • menunjukkan kualifikasi yang dimiliki sehingga layak untuk memangku jabatan yang dilamar
    • memperlihatkan tujuan karir yang diinginkannya

    Beberapa Saran

    Bagi anda pencari kerja yang mungkin mengalami masalah dalam membuat resume, mungkin ada baiknya anda mempertimbangkan beberapa saran berikut ini:

    1) Isi dan Penampilan

    • Nama jabatan & Uraian Jabatan: Tulis nama jabatan anda dan lengkapi dengan penjelasan tentang aktivitas-aktivitas harian Anda. Usahakan untuk menuliskan aktivitas-aktivitas yang dapat diukur. Ingat: Anda harus dapat memberitahu pembaca tentang apa persisnya pekerjaan yang telah anda lakukan
    • Tanggal dan Tempat. Tulislah riwayat pendidikan dan pekerjaan anda secara tepat. Misalnya: kapan anda diterima bekerja dan kapan anda keluar dari perusahaan X, kapan anda menjabat sebagai .... atau kapan anda pindah kerja dari kantor pusat ke kantor cabang. Ingat: Jangan membuat pembaca menebak-nebak kapan anda bekerja dan untuk berapa lama.
    • Rinci. Jelaskan kata-kata atau istilah-istilah teknikal/khusus yang mungkin ada dalam resume anda sedetil mungkin.
    • Proporsional. Tuliskan pekerjaan atau pendidikan sesuai dengan kepentingan si pembaca dan buatlah secara proporsional. Contoh: Jika anda melamar sebagai Marketing Manager hendaklah anda tidak menulis hanya satu paragraph mengenai pekerjaan anda sebagai Sales Manager dan tiga paragraph lainnya tentang kegiatan anda sebagai Trainer.
    • Relevansi. Tuliskan hanya hal-hal yang relevan dengan tuntutan pekerjaan yang anda lamar. Contoh: Tidak perlu menuliskan pengalaman berorganisasi anda selama kuliah meskipun anda menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa selama beberapa periode, jika pekerjaan yang anda lamar tidak berhubungan dengan kemampuan organisasi atau leadership.
    • Explicit. Jangan membuat resume yang membuat pembaca berimajinasi. Contoh: jangan berasumsi bahwa pembaca tahu bahwa anda tamatan Unika Atma Jaya Jakarta, atau Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Jika anda tidak menuliskan nama kota bisa jadi pembaca menganggap anda tamatan dari kota lain.
    • Panjang. Pada umumnya resume hanya terdiri dari 2 (dua) halaman. Namun jika memang riwayat karir dan pendidikan yang anda rasa sangat penting untuk ditampilkan menuntut anda untuk memperpanjang, maka 3 (tiga) halaman resume masih dapat diterima.
    • Tanda baca, ejaan, dan tata bahasa. Tidaklah dibenarkan jika dalam resume terjadi kesalahan-kesalahan menyangkut tanda baca, ejaan maupun tata bahasa. Jika anda menulis resume dalam bahasa Inggris, cobalah minta untuk direview oleh teman/kerabat yang menguasai bahasa tersebut, jika memang anda belum yakin.
    • Mudah dibaca. Resume yang dibuat secara kacau balau menggambarkan pikiran yang tidak jernih dan ketidakmampuan penulis dalam menuangkan isi hatinya. Oleh karena itu sangat penting membuat resume yang mudah dibaca, tidak terpisah-pisah dan logis.
    • Penampilan. Pilihlah format terbaik yang dapat anda tampilkan untuk membuat resume, termasuk disini adalah pemilihan jenis huruf, kertas yang digunakan serta paduan warna (jika menggunakan printer warna). Tampilan resume yang asal-asalan hanya akan berakhir di kotak sampah atau mesin penghancur kertas, meski pengirimnya mungkin memiliki kualifikasi yang sangat baik.

    2) Menunjukkan Kualifikasi

    Untuk lebih meyakinkan pembaca, Anda dapat memberikan penekanan pada beberapa aspek tertentu dari latarbelakang Anda yang relevan dengan pekerjaan dalam rangka memberikan pemahaman kepada pengusaha tentang nilai-nilai potensial anda yang akan berguna bagi si pengusaha atau perusahaannya. Adapun aspek-aspek yang dapat anda tonjolkan adalah:

    • Penghargaan atau reward
    • yang pernah diterima sesuai dengan jabatan yang dilamar. Contoh: jika anda melamar sebagai IT Manager, pihak perusahaan (recruiter) tentu ingin tahu kemampuan anda di bidang teknik dan bagaimana kemampuan tersebut dibandingkan dengan rekan-rekan yang lain. Jika anda pernah menerima penghargaan di bidang tersebut, tuliskanlah. Dengan demikian perusahaan akan tahu dimana tingkatan kemampuan anda.
    • Prestasi Akademik.
    • Tuliskan gelar dan prestasi akademik yang anda raih sertakan juga judul Tugas Akhir/Skripsi/Thesis/Disertasi.
    • Kemampuan Tambahan.
    • Kemampuan tambahan dapat berupa kemampuan mengoperasikan program komputer atau pelatihan-pelatihan khusus yang pernah diikuti.
    • Keanggotaan dalam organisasi professional.
    • Jika anda terlibat dalam organisasi professional seperti Assiosiasi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Ikatan Akuntan Indonesia (AAI), dll yang berguna bagi pembaca, jangan segan untuk menuliskannya.
    • Indikator Kesuksesan.
    • Anda dapat menuliskan berbagai indikator kesuksesan yang pernah anda peroleh, misalnya beasiswa karena kecerdasan anda, dikirim training ke luar negeri karena keberhasilan anda dalam perusahaan, keberhasilan anda menekan biaya operasional di divisi anda, dll.
    • Pengalaman
    • yang berhubungan dengan pekerjaan. Tuliskan semua pengalaman yang pernah anda alami sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang anda lamar. Cth: jika pekerjaan yang anda lamar menuntut anda untuk sering melakukan traveling keluar negeri, pastikan pembaca tahu bahwa anda mahir berbahasa Inggris.

    3) Perhatian Khusus

    Selain kedua faktor yang telah disebutkan diatas, dalam membuat resume pelamar perlu berhati-hati dalam mencantumkan atau menuliskan hal-hal sebagai berikut:

    • Riwayat Gaji (Gaji yang pernah diterima dan yang diharapkan). Dalam hal pencantuman jumlah gaji yang diterima dan yang diharapkan, pelamar harus sangat berhati-hati dalam memutuskan perlu tidaknya mencantumkan hal tersebut dalam resume. Untuk itu pelamar dituntut kejeliannya dalam melihat iklan lowongan kerja atau informasi tentang lowongan kerja tersebut. Pada lowongan kerja yang sudah mencantumkan dengan jelas berapa gaji yang akan diterima pertahun atau per bulan, sebaiknya pelamar tidak perlu membuat riwayat gaji dalam resume yang dibuatnya. Hal itu tentu saja akan sangat berbeda jika di dalam iklan memang mengharuskan pelamar untuk mencantumkan riwayat gaji dan besarnya gaji yang diharapkan.
    • Referensi. Dalam hal pencantuman nama orang yang akan dijadikan referensi, pelamar harus benar-benar yakin bahwa orang tersebut benar-benar mengetahui diri si pelamar dan memiliki pengaruh positif bagi perusahaan yang dilamar. Artinya pelamar tidak boleh asal menyebutkan nama orang sebagai referensi, misalnya: mantan boss/atasan atau dosen. Daripada memaksakan diri untuk menyebut nama-nama orang sebagai referensi, pelamar cukup menuliskan: "Referensi: akan diberikan jika diminta".
    • Dokumen Pendukung. Meskipun tidak ada keharusan bagi pelamar untuk menyertakan dokumen atau bukti-bukti tentang hal-hal yang dituliskan dalam resume, seperti Ijazah, Transkrip Nilai, Sertifikat atau Penghargaan, dll, namun mengingat kondisi di Indonesia maka sebaiknya pelamar menyertakan dokumen pendukung tersebut dalam bentuk photocopy. Hal ini penting untuk meyakinkan pembaca bahwa anda benar-benar menulis resume berdasarkan fakta yang ada. Namun satu hal yang harus diingat dengan baik adalah "jangan sampai dokumen pendukung tersebut menjadi terlalu banyak". Untuk itu anda harus menyeleksi/mensortir dokumen mana yang paling pantas dan relevan untuk dilampirkan. Contoh: Jika anda pernah mengikuti kursus komputer beberapa kali, tidak perlu semua sertifikat dari setiap kursus tersebut anda lampirkan, tetapi cukup salah satu yang paling tinggi tingkatannya.
    • Informasi Pribadi. Pelamar sebaiknya berhati-hati menuliskan hal-hal yang bersifat pribadi. Beberapa hal yang umumnya boleh dituliskan adalah status perkawinan, jumlah anak, kepemilikan kendaraan, kesediaan untuk di relokasi atau melakukan travelling ke luar kota / luar negeri. Di luar hal-hal tersebut pelamar harus benar-benar yakin bahwa informasi pribadi yang ditulisnya akan relevan dengan pekerjaan yang dilamar, jika tidak sebaiknya jangan menulis informasi pribadi tersebut.

    Para pembaca yang budiman, apapun pilihan karir anda pastikan untuk membuat resume atau pun CV secara maksimal. Bila memang anda merasa belum yakin dengan apa yang telah anda buat selama ini, cobalah buat sekali lagi dan bila perlu minta orang lain untuk menilai Resume atau CV anda tersebut. Selamat Mencoba, semoga anda cepat memperoleh pekerjaan yang diinginkan.(jp)



    Posted at 12:31 am by febri78
    Make a comment  

    Find a Job in 10 Steps

    Find a Job in 10 Steps
    by James C. Gonyea


    It's no secret that you must master certain skills to accomplish anything
    in life. Here are 10 steps that, if followed in the proper order, can help
    lead to your next job. As the Chinese proverb says, "The journey of a
    thousand miles begins with a single step."

    1. Understand the Reality of Job Hunting.

    The right frame of mind is as important for landing a job as how you
    search. Here are some thoughts that will help adjust your job-hunting
    attitudes:

    a.. Job hunting is all about promoting yourself and your talent.
    b.. Know how your talent can benefit employers.
    c.. Finding a job is a job -- it takes time.
    d.. Follow a plan, but be flexible.
    e.. Don't quit until you succeed.

    2. Assess Yourself.
    Identify and write down your interests, skills, values, needs and work
    habits. If you know your personality, you can more easily determine the
    right work and employer for you.

    Interest

     

    Skill

     

    Values

     

    Needs

     

    Work Habit

     

    3. Determine Your Objectives.
    What type of position do you want? What job activities would you enjoy?
    What kind of employer is right for you? Do you have geographical
    preferences? Know what you want before you look; it will help you zero in
    on the best targets more quickly.

    Position

     

    Job Activities

     

    Kind of employer

     

    Geographical preferences

     

    4. Create a Career Portfolio.
    Prepare and gather documents such as:
    a.. Sample cover letters, letters of inquiry or application, and follow-up, acceptance and rejection letters.
    b.. Your resume.
    c.. Letters of recommendation.
    d.. School or college transcripts, certifications, diplomas and degrees.
    e.. Awards and citations.
    f.. Business cards.

    5. Organize a Support Group.
    Pull together three to six people who will help you complete job-hunting
    tasks. Call upon friends, relatives and colleagues. Give each individual
    an assignment, such as researching companies or job leads. Remember, a
    team can do far more work than an individual. Reward each member.

    6. Target Employers.
    Research potential employers and identify those you think might be a good
    fit. Find employers who have a need for your talent, and then get the
    names of individuals at each company who are responsible for the positions
    you want.

    7. Apply.
    Prepare all necessary cover letters, resumes and supporting documentation
    to apply for employment at each target employer. Make sure documents look
    professional and then mail, fax or email them to the person with the power
    to hire you. Clearly illustrate how you can be of value to each employer.
    Repeat this step until you land the job you want.

    8. Interview.
    Research the company before the interview -- know what the company is
    about and how you can contribute to its goals. Dress appropriately. Know
    what salary and benefits you want, but be willing to negotiate. Follow up
    each interview with a thank-you letter stressing how you can benefit each
    employer. Repeat this step until you land the job you want.

    9. Accept or Reject the Job Offer.
    Mail a well-crafted letter to each employer upon notice of an offer or
    rejection. If responding to an offer, state your appreciation, repeat the
    offer terms and indicate when you will start your new job. You should
    respond to rejection letters to. Again, state your appreciation and how
    you can be of value should a relevant position open up.

    10. Evaluate the Process.
    If you don't land your target job, ask yourself these questions:
    a.. Have I done everything necessary?
    b.. How well did I accomplish each step?
    c.. Where can I improve?

    If you are still at a loss, seek professional assistance. A trained career
    counselor can often identify the cause of your problem and get you back on
    the road to success.


    Posted at 12:14 am by febri78
    Make a comment  

    Jul 27, 2005
    Standarisasi dan Sertifikasi Produk; Peluang dan

    Laporan Ceramah Mata Kuliah MMA-IPB (15 Oktober 2002)
    Kali ini Versi Lengkapnya..... 
    Jadi kangen kelas CMK tiap Selasa di Gd. Mahoni - Gunung.Gede - Bogor
     
    Judul Ceramah : Standarisasi dan Sertifikasi Produk; Peluang dan

                        Ancaman Produk Agribisnis

    Penceramah     : Dr. Wahyudi Sugiyanto


    I.                  Ringkasan

     

    1.1               Pendahuluan

    Produk Agribisnis ekspor Indonesia mengalami tantangan besar dalam perdagangan internasional.  Kesulitan yang dialami antara lain dalam memenuhi persyaratan dari negara pengimpor, terutama berkiatan dengan standar mutu yang ditetapkan.  Dilain pihak pasar dalam negeri Indonesia kebanjiran produk impor yang lebih kompetitif dan lebih diminati oleh masyarakat Indonesia sebagai konsumen yang rasional,  termasuk produk Agribisnis sehingga produk Agribisnis Indonesia tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

    Standar mutu berkaitan dengan appearance/penampakan, seperti ukuran besar/volume, warna, kandungan air, dan sebagainya yang umumnya ditentukan oleh penjual dan pembeli.  Seiiring dengan perkembangan globalisasi, standar mutu menjadi lebih kompleks dikaitkan dengan masalah SPS (Sanitary and Photosanitary) dan TBT (Technical Barrier to Trade) yang umumnya dituangkan dalam peraturan teknis (Technical Regulation) yang diterbitkan oleh suatu negara.  Mutu produk dikaitkan dengan masalah keamanan pangan, keamanan bagi manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, serta lingkungan.

    Seringkali aspek SPS/TBT serta lingkungan digunakan oleh negara industri sebagai proteksi terselubung dalam perdagangan, untuk memperketat masuknya barang impor dan secara tidak langsung melindungi produk dalam negerinya, serta menekan harga produk impor.  Perdagangan saat ini buka lagi business as usual, tetapi merupakan pertempuran ilmu dan teknologi yang tercermin pada produk peraturan teknis beraspek SPS/TBT, serta pertarungan efisiensi manajemen yang tercermin pada sistem tataniaga serta kebijakan perdagangan suatu negara.  Beberepa contoh bentuk penerapan SPS/TBT oleh Australia dan Amerika Serikat adalah : holding others, automatic detension, dan persyaratan HACCP.  Standar produk menjadi lebih komplek dan tuntutan terhadap sertifikasi sistem manajemen mutu dan standar produk merupakan suatu keharusan.

     

    1.2               Standarisasi, Akreditasi, dan Sertifikasi

    Sistem Standarisasi Nasional (SSN) merupakan dasar dan pedoman standarisasi di Indonesia yang meliputi tiga kegiatan pokok yaitu; Standarisasi, Sertifikasi, dan Akreditasi, termasuk menyangkut kerjasama standarisasi internasional.  Ruang lingkup SSN pada dasarnya meliputi kebijakan strategi perumusan standar, penerapan standar, kerjasama dan pemasyarakatan standar, penelitian, dan pengembangan standarisasi, serta kebijakan kelembagaan.  Pengembangan SSN diharapkan mampu mengantisipasi tuntutan konsumen dan persaingan perdagangan domestik maupun ekspor yang semakin meningkat. Berkaitan dengan komoditi Agribisnis, departemen teknis (Pertanian, Kehutanan, Perindustrian, dan Perdagangan) mengembangkan sistem standarisasi yang disesuaikan dengan kebutuhannya dengan mengacu kepada SSN.

    Sebagaimana SSN, Sistem Standarisasi Pertanian (SSP), dirancang untuk digunakan sebagai pedoman dalam perumusan, penerapan, pembinaan, serta pengawasan standarisasi, akreditasi, dan sertifikasi Pertanian termasuk hasil Perikanan.    Implikasinya adalah perlunya pengembangan sistem jaminan mutu untuk produk Pertanian dan Perikanan sebagai konsekuensi logis dari meningkatnya tuntutan konsumen akan mutu produk tersebut yang semakin meningkat dan aman bagi konsumen serta tidak merusak lingkungan.

    Adanya globalisasi menyebabkan penerapan policy instrument perdagangan berupa bea masuk makin tidak populer dan perannya digantikan oleh Technical Regulations (dalam bentuk SPS/Sanitary dan Phytosanitary ataupun TBT-Technical Barrier to Trade).  Kesepakatan WTO tahun 1994 antara lain membenarkan satu negara menetapkan standar produk dikaitkan dengan aspek SPS (keamanan pangan, fauna, dan flora) untuk melindungi penduduk, hewan, dan tanaman di negara tersebut.  Persyaratannya adalah bahwa standar tersebut didasarkan pada scientific evidence dan tidak digunakan untuk alat proteksii perdagangan terselubung. 

     

    Peraturan teknis ini (terutama oleh negara maju) diterapkan baik secara terang-terangan maupun secara terselubung, sebagai alat kebijakan perdagangan.  Contoh kasus penerapan standar batas ambang chloramphenicol terhadap ekspor udang Indonesia yang semakin ketat yang akhir-akhir ini dilakukan oleh Uni Eropa, AS dan Kanada.  Tindakan ini menganggu ekspor hasil Perikanan Indonesia. 

    Negara maju yang mengetatkan standar mutu, berkaitan dengan masalah SPS ini, menimbulkan kesan makin sulitnya produk Agribisnis Indonesia untuk menembus pasar ekspor.  Di Indonesia penerapan regulasi teknis (SPS/TBT) dan standar mutu produk dalam perdaganagan dinilai sangat longgar, disamping lemahnya pengawasan dari aparat pemerintah terhadap importasi dan penyelundupan formal.  Kondisi ini menyebabkan barang luar negeri mudah masuk ke Indonesia.  Akibatnya Indonesia kebanjiran produk impor yang mutu dan keamanannya masih disangksikan. 

    SSP nyaris tidak pernah diubah, walaupun keadaan telah membutuhkannya. SSP kurang bisa mengikuti perubahan PP, UU, SSN, ataupun tuntutan konsumen/pasar.  Reorganisasi Depertemen Pertanian yang sering kali berubah akibat perubahan kabinet, mungkin merupakan penyebabnya. 

    Hubungan yang konsisten antara SSN dan SSP  belum telihat dengan baik, sejogyanya diupayakan dengan baik, agar telihat dengan jelas, bahwa SSP (dan sistem standar produk lainnya) dan SSN merupakan kesatuan dalam satu sistem.  Sistem yang baik memungkinkan mekanisme antar subsistem akan berfungsi lebih baik, transfaran dan komprehesif.  Mekanisme kerja dan pemecahan masalah akan terjadi secara holistik bukan secara parsial atau adhock saja.  Sistem ini akan berfungsi lebih baik lagi bila didukung oleh SSP yang benar-benar dibangun sebagai suatu subsistem dari SSN.

     

    1.2.1         Standarisasi

    Standar adalah spesifikasi teknis yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait.  Sedang standarisasi merupakan kegiatan yang berkaitan dengan standar.  SNI adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional yang merupakan penjabaran operasional dari SSN/SSP.  Kegiatan perumusan standar Pertanian dan Perikanan merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari perencanaan, perumusan, sampai penerapan standar sebagai SNI. 

    Perumusan SNI untuk Sektor Pertanian dan Perikanan dilakukan melalui pra konsensus yang selanjutnya menjadi konsensus nasional.  Stakeholder berkaitan dengan standarisasi meliputi pemerintah (departemen teknis), konsumen, pelaku usaha, dan ilmuwan.  Di Sektor Pertanian dan  Perikanan terdapat 9 jenis SNI yaitu : (1) Produk segar (hanya terdapat 38 jenis), (2) Produk olahan (283 jenis), (3) Pakan/bahan baku pakan (46 jenis). (4) Benih/bibit (20 jenis), (5) Metode uji, (6) Penanganan dan pengolahan, (7) Peralatan panen, pasca panen produk, (8) Pupuk/pestisida (19 jenis), dan (9) Sistem.  Hal ini menunjukan bahwa jumlah SNI relatif sangat kecil dibandingkan dengan jenis produk yang diperdagangkan.

     

    1.2.2         Akreditasi

    Akreditasi merupakan rangkaian kegiatan pengakuan formal atau lembaga akreditasi nasional KAN (Komite Akreditasi Nasional/BSN) yang menyatakan bahwa suatu lembaga/laboratorium telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan sertifikasi tertentu.  Instansi pemerintah maupun swasta yang belum atau tidak diakreditasi, tidak berhak melakukan kegiatan sertifikasi. 

    Akreditasi terhadap lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, dan laboratorium, diberikan oleh KAN.  Agar lembaga yang terakreditasi, diakui secara internasional, maka pelaksanaan akreditasi harus mengikuti peraturan dan  persyaratan akreditasi yang berlaku secara internasional, seperti peraturan yang disyaratkan oleh ISO (International Organization for Standardization), ILAC (International Laboratory Acreditation and Cooperation), ATLAC (Asia Pacific Laboratory Acreditation and Cooperation), IAF (Internation Acreditation Forum), PAC (Pacific Acreditation Cooperation).  Agar lembaga swasta yang telah diakreditasi oleh KAN dapat merasakan ada manfaatnya, maka perlu dilakukan sosialisasi dalam berbagai bentuk, ke dalam dan keluar negeri oleh BSN.   Publikasi intensif tentang lembaga swasta yang telah mendapatkan akreditasi dan ruang lingkup perlu diperkenalkan oleh BSN kepada masyarakat luas ataupun kepada negara-negara mitra dagang Indonesia.

     

     

    1.2.3         Sertifikasi

    Sertifikasi merupakan kegiatan penerbitan sertifikat barang atau jasa.  Sertifikat merupakan jaminan yang menyatakan bahwa barang, jasa, proses, sistem, atau personil telah memenuhi standar atau mutu yang diperyaratkan.  Sertifikat diberikan oleh lembaga/laboratorium yang telah mendapatkan akreditasi dari BSN/KAN, kepada badan usaha, eksportir, ataupun perorangan.

    Berbagai sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi,antara lain; Sertifikat Sistem Manajemen Mutu (ISO 9000, ISO 2000), Sistem Manajemen Mutu Lingkungan (ISO 14000), Pengelolaan Hutan Lestari, Lacak Balak, Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP-Hazard Analysis Critical Control Point), Sertifikat Mutu Produk.  Sertifikat dari laboratorium ; Sertifikat Hasil Uji Laboratorium, dan Kalibrasi.

    Penerapan SNI dalam kaitannya dengan mutu produk yang diperdagangkan, dapat dilihat dari dua sisi;

    1.       Standar

    Berkaitan dengan penampakan (apperance-product). Penerapannya dilakukan secara sukarela dan tidak ada sanksi hukumnya.  Umumnya merupakan kesepakatan antara pembeli dan penjual.

     

    2.       Peraturan teknis (technical regulation)

    Berkaitan dengan SPS (Envitocentary) TBT dan aspek lingkungan yang turut andil dalam penentuan standar produknya. SPS (termasuk aspek karantina pertanian) TBT dan lingkungan yang dimaksudkan untuk melindungi manusia, tanaman, dan hewan di suatu negara

     

    II. PEMBAHASAN

     

    Agribisnis merupakan kegiatan ekonomi yang berhulu pada dunia pertanian, mencakup semua kegiatan mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai kegiatan tataniaga produk pertanian yang dihasilkan oleh usahatani (Downey dan Ericson, 1987).  Definisi ini memperlihatkan bahwa Agribisnis mencakup bidang-bidang yang sangat luas yang dapat dinyatakan dalam lima komponen yaitu ; (1) penyediaan dan penyaluran sarana produksi pertanian, (2) produksi pertanian, (3) usaha industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri), (4) pemasaran hasil-hasil pertanian, dan (5) pelayanan seperti perbangkan, angkutan, asuransi, dan lain-lain.  Selain itu, Agribisnis juga terkait erat dengan pelayanan yang dipasok oleh pemerintah seperti sarana dan prasarana, penelitian, penyuluhan dan kebijakan pemerintah. Seluruh komponen itu terorganisasi dan merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruh, sehingga gangguan terhadap salah satu subsistem Agribisnis akan mempengaruhi kelancaran Agribisnis secara keseluruhan.

    Penerapan SSP terkait dengan semua sub-sistem Agribisnis tersebut diatas, terutama pada susb-sistem agroindustri.  Selama ini Sektor Pertanian masih dijadikan sebagai prioritas dalam strategi pembangunan Indonesia yang secara jelas dijabarkan dalam GBHN, namun pada kenyataannya peranan Sektor Pertanian secara bertahap terus dikurangi.  Hal ini terjadi karena adanya paradoks pembangunan (developent paradox) dimana umumnya negara-negara maju yang mengandalkan industri dengan teknologi tinggi dan pendapatan per kapita yang sangat besar, memproteksi petaninya yang berjumlah sedikit.  Sebaliknya negara-negara miskin, berbasis pertanian dan sumberdaya alam lain cenderung tidak ramah terhadap petaninya yang merupakan mayoritas dan kontributor utama dalam sistem politik, ekonomi, dan demokrasi negara (Arifin, 2000).  Kondisi ini ikut menghambat perkembangan Sektor Agribisnis, sehingga tuntutan mutu terhadap produk Agribisnis Indonesia belum dapat dipenuhi secara maksimal.  Selanjutnya bila dikaji lebih jauh, maka SSP yang berlaku merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Sektor Pertanian khususnya Agribisnis Indonesia.

             

    2.1  Peluang SSP bagi Agribisnis Indonesia

    Kepercayaan konsumen terhadap barang atau jasa yang diperdagangkan merupakan aspek penting dalam perdagangan Internasional. Kepercayaan dapat dibangun dari jaminan yang diberikan lembaga penjamin yang mempunyai reputasi internasional.  Contoh nyata yang bisa dilihat adalah pada negara Jepang.  Konsumen dengan mudah menerima dan mempercayai produk yang dihasilkan oleh Jepang karena adanya jaminan mutu dan keamanan.  Demikian pula halnya dengan produk negara maju lainnya. Indonesia memiliki keterbatasan dalam hal ini, sehingga perlu terus membenahi diri.

    Guna mengantisipasi dan menembus persaingan global yang terjadi, maka industri dituntut mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan konsumen sasaran terhadap mutu produk yang dihasilkan.  Untuk itu perusahaan harus mampu menerapkan sistem manajemen mutu dan keamanan yang unggul disertai dengan pola pengawasan mutu yang mampu memberikan jaminan terciptanya produk yang aman. 

    Standarisasi produk agribinis merupakan tuntutan yang mau tidak mau harus dipenuhi oleh pelaku Agribisnis Indonesia untuk dapat bertahan dan memenangkan persaingan global yang terjadi baik di pasar lokal maupun internasional.  Standar mutu produk yang diminta konsumen akan memacu perkembangan produk akhir Agribisnis dan merupkan peluang yang baik Indonesia untuk memperbaiki produk yang dihasilkan, sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

    Sertifikasi dapat bermanfaat dalam menjamin kemurnian (genuineness) dan kualitas (quality) produk Agribisnis yang akan dibeli konsumen. Apabila tujuan ini tercapai, manfaatnya akan sangat terasa bagi konsumen, dalam hal ini petani.  Jaminan kualitas dari hasil sertifikasi, membuat nilai produk meningkat.  Guna menjamin kebenaran informasi dari produsen Agribisnis, maka perlu dilakukan penyempuraan metode sertifikasi yang telah ada, sehingga kebenaran informasi dapat tenjamin. Dengan mengembangkan metode sertifikasi mutu diharapkan dapat menjawab tantangan persaingan bisnis (www.fda.gov, 2002). 

    Sertifikat hasil sertifikasi, akan sangat membantu petani yang akan menggunakannya untuk mendapatkan informasi yang akurat, sementara konsumen produk tanaman tersebut juga mendapatkan informasi yang jelas. Dengan demikian mereka dapat dengan objektif, apakah akan menerima atau menolak produk tersbut. Manfaat tersebut tidak akan diperoleh jika proses sertifikasi tidak dilakukan.

     

    2.2  Ancaman SSP bagi Agribisnis Indonesia

    Harapan perbaikan  mutu produk Agribisnis Indonesia, khususnya tidaklah mudah dilaksanakan.  Beberapa kendala yang dapat diidentifikasi dan merupakan masalah klasik dalam dunia Agribisnis adalah;

    1.      Subsistem Up Stream Agribussiness (Hulu)

    Industri penghasil sarana/prasarana produksi pertanian belum mampu memberikan teknologi yang bisa dengan mudah diadopsi oleh petani dengan harga yang terjangkau. Pengembangan teknologi pertanian belum terintegrasi dengan baik antara departemen yang terkait dengan pengembangan teknologi Agribisnis seperti BPPT, Departemen Pertanian dan Departemen Perikanan dan Kelautan.  Masing-masing berusaha menghasilkan teknologi masing-masing dan kurang kerjasama sehingga terkadang terjadi tumpang tindih dalam pengembangan suatu teknologi tertentu yang berakibat pada biaya tinggi.  Harga-harga sarana produksi yang dihasilkan secara lokal relatif mahal dan mengakibatkan pelaku Agribisnis khususnya petani kecil kesulitan untuk mengadopsinya.

     

    2.      Subsistem On Farm

    Salah satu penyebab tidak bersaingnya harga pokok produksi produk Agribisnis di Indonesia adalah rendahnya produktivitas.  Dalam sektor on farm, rendahnya produktivitas dapat dilihat pada berbagai macam komoditi. Padi misalnya. Berdasarkan data FAO 2001, produktivitas padi Indonesia masih sebesar 4.43 ton per Ha, jauh tertinggal dibandingkan dengan produktivitas padi di Cina yang telah mencapai 6.23 ton per ha. Sedangkan untuk kelapa sawit, hingga tahun 2000, produktivitas kelapa sawit Indonesia masih mencapai 11.52 ton TBS per Ha, jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia yang produktivitas kelapa sawit-nya telah mencapai 17.04 ton TBS per Ha.  Produktivitas tanaman kedelai Indonesia tertinggal lebih jauh lagi. Produktivitas kedelai di Indonesia baru mencapai 1.23 ton per Ha hingga Tahun 2000, jauh dibawah produktivitas kedelai China yang telah mencapai 1.70 ton kedelai per Ha, dan jika dibandingkan dengan produktivitas kedelai Amerika yang mencapai 2.56 ton per Ha, kita semakin jauh tertinggal. Rendahnya produktivitas tersebut menyebabkan biaya per-satuan produk menjadi tinggi.

    Rendahnya efisiensi dan efektivitas dari sektor perekonomian terlihat pada Sektor-Sektor Agribisnis. Karet misalnya. Saat ini biaya produksi karet Indonesia masih jauh diatas biaya produksi dari negara penghasil karet lainnya seperti Thailand. Demikian pula dengan kopi, saat ini biaya produksi kopi Indonesia tertinggal jauh dari pendatang baru seperti Vietnam (www.agroindonesia.com, 2001)

     

    3.      Subsistem Pengolahan/Agroindustri

    Secara keseluruhan, Sektor Agribisnis Indonesia masih berada pada fase natural resources yang tercermin oleh struktur ekspor Agribisnis yang masih didominasi oleh produk-produk primer seperti minyak sawit mentah, karet mentah, hasil perikanan dan lain-lain (Daryanto, 2002).  Kondisi mencerminkan kemampuan  Indonesia dalam meningkatkan nilai tambah produk Agribisnis yang belum optimal. Agroindustri mengalami beberapa kendala yang krusial dalam peningkatan nilai tambah yang terkait dengan kemampuan manajemen pengelola, teknologi, dan modal.

    Banyak diantara petani belum mampu menghasilkan produk bermutu Dimana produsen tidak memperhatikan bagaimana patok duga dari produk akibatnya kesadaran terhadap pentingnya pengawasan mutu produk pertanian yang akan diekspor itu kurang. Banyak pengusaha bukan produsen murni tetapi pedagang pengumpul hasil panen petani. Sedangkan petani sendiri pengetahuan mengenai tingkatan mutu produk pertanian yang dihasilkan juga tidak memadai sehingga tanpa memilah lebih dahulu mana yang bagus dan mana yang jelek, dan langsung menjualnya.

     

    4.      Subsistem Pemasaran

    Dari segi pemasaran, Indonesia belum mamapu menerapkan prinsip bauran pemasaran dengan baik untuk produk Agribisnis.  Harga produk Agribisnis Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan dengan produk competitor dari negara lain.  Hal ini terkait dengan produktivitas dan efisiensi produksi Sektor Agribisnis.  Belum lagi harga yang tinggi tersebut tidak diimnagani dengan kualitas produk yang memadai sesuai dengan nilai kompenasi yang dibayarkan oleh konsumen.

    Sistem distribusi produk Agribisnis yang cenderung menggunakan rantai pemasaran yang panjang menyebabkan margin pemasaran relatif tinggi dan kemungkinan kerusakan produk lebih besar. Promosi terhadap produk unggulan Agribisnis yang dihasilkan Indonesia kurang dilakukan.   Sehingga banyak diantara produk Agribisnis lokal, justru disertifikasikan dan dipromosikan oleh negara lain sebagai produk mereka.

     

    5.      Subsistem Sumber Daya Manusia

    a.      Petani

    Petani belum berorientasi bisnis dalam mengelola usahanya.  Kebanyakan dari mereka merupakan petani gurem dengan lahan yang kecil, kekurangan modal, pengetahuan rendah, dan kemampauan adapatasi teknologi kurang.

    Kelemahan produsen produk pertanian khusunya petani adalah kurang sadarnya terhadap mutu, sehingga nilai produk Agribisnis yang kini menjadi andalan ekspor kurang maksimal.

     

    b.      Pengusaha

    Banyak diantara pengusaha Agribisnis nasional kurangnya menguasai manajemen pengendalian dan pengawasan mutu produk yang akan diekspor, sehingga nilai tambahnya seringkali dinikmati negara lain yang justru tidak memiliki lahan pertanian dan perkebunan.

    Kebanyak pengusaha juga kurang mendukung dan kurang memberikan kontribusi bagi kemajuan petani.  Perusahaan kurang berperan dalam pemberdayaan petani.  Sampai saat ini masih sedikit sekali perusahaan yang bermitra dengan petani dengan orientasi murni meningkatkan pendapatan petani.  Kemitraan yang terjalin dipastikan juga memberikan keuntungan bagi perusahaan yang bersangkutan.  Birokrasi yang dibuat oleh pengusaha cukup menyulitkan petani, orientasi perusahaan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dari petani menyebabkan berbagai perselisihan antara petani dan pengusaha banyak terjadi.  Sebut saja kasus tanah dan upah yang paling sering memicu gejolak kerusahaan atau demo buruh tani.

     

    c.       Pemerintah

    Pemerintah sejak lama undervalue terhadap Sektor Pertanian, bahkan ere formasi yang juga membawa perubahan pada kebijakan pertanian, tidak mmapu memperbaiki sistem Agribisnis menuju sebuah keidealan. Banyak program pemerintah tidak disesuai dengan kebutuhan petani, peyebaran informasi harga yang dibutuhkan oleh petani kurang akurat.

     

    6.      Subsistem Kelembagaan dan Penunjang

    Dukungan bagi Sektor Agribinis Indonesia perlu diberikan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam bentuk kelembagaan, lembaga pembiayaan yang berbasis pada karakteristik Agribinis perlu dioptimalkan dan terus dikembangkan fungsinya, seperti lembaga penjamin dan bank khusus. Paling tidak, memanfaatkan infrastruktur perbankan yang ada sebagai wadah untuk membangun sistem pendanaan yang dapat bermanfaat atau dimanfaatkan.

    Pengembangan lembaga dan program promosi Agribisnis perlu terus dilakukan, terutama memanfaatkan yang sudah ada, seperti Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI serta perwakilan Pemerintah RI di luar negeri. Untuk lebih menduniakan Agribinis Indonesia, pemerintah seyogianya mengalokasikan dana yang cukup untuk membantu melakukan promosi yang luas. Misalnya, pameran, pertemuan bisnis, dan studi banding.

    Pembentukan lembaga khusus dan independen merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan.   Lembaga pelatihan yang ada seperti Balai Latihan Kerja perlu diintensifkan dengan mengkhususkan diri pada pengembangan kemampuan. Pelatihan yang menyeluruh dan mudah diperoleh akan dapat mendorong pertumbuhan. Indonesia memiliki banyak lembaga pelatihan, termasuk perguruan tinggi, tapi tidak memiliki program dan pengelolaan yang khusus bagi, sehingga akses sangat terbatas. Taiwan dan Jepang memiliki inkubator bisnis sebagai suatu lembaga pelatihan.

    Pusat pelayanan dan informasi perlu lebih luas dan aktif agar setiap saat pengusaha atau calon pengusaha mudah mendapatkan informasi yang diperlukan. Pusat pelayanan satu atap mungkin dapat membantu.  Indonesia mempunyai banyak pusat pelayanan yang tersebar di setiap departemen dan daerah, tapi, selain sulit dijangkau, seringkali informasi yang dicari tidak tersedia.

    Pelayanan satu atap ini seyogianya dapat menyediakan semua aspek menyangkut perencanaan usaha, pendirian dan pengelolaan usaha, teknologi, pasar dan pemasaran, perizinan, dan sebagainya yang terkait dengan Lembaga sertifikasi diharapkan mampu memantapkan produk, baik dari aspek mutu maupun legal. Di beberapa negara, seperti Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan, sudah dimulai upaya sertifikasi ISO bagi industri. Ini diharapkan dapat membangun citra baik bagi industri nasional, sehingga dapat diterima secara luas. Reorganisasi usaha tani lahan sempit dan manajemennya kearah diversifikasi usaha Agribisnis yang memberikan nilai lebih.

    Kelemahan-kelemahan dari semua subsistem Agribisnis Indonesia, menjadikan SSP sebagai sebuah ancaman.  Karena Indonesia belum siap secara total untuk menghadapi tuntutan dari konsumen dan kondisi persingan dunia bisnis internasional yang kurang memihak pada negara-negara berkembang. Contoh kongkrit adalah perjanjian SPS yang sebenarnya bertujuan untuk memperlancar perdagangan komoditi pertanian sekaligus menjamin keselamatan dan kesehatan konsumen, serta kesehatan hewan dan tanaman yang diperdagangkan.  Namun tujuan yang begitu luhur dari SPS Agreement tersebut, dimanfaatkan secara berlebihan oleh sebagian besar negara-negara maju yang secara umum mempunyai keunggulan dibidang teknologi, informasi dan sumberdaya dana, sebagai instrumen penghambat masuknya produk-produk dari luar ke pasar dalam negerinya (disguised on trade).

    Hal ini terlihat dengan semakin diperketatnya peraturan-peraturan sanitasi dan phitosanitasi bagi ekspor hasil pertanian ke negara-negara industri maju. Masyarakat Eropa misalnya, menginginkan agar semua ekspor minyak nabati ke Eropa Barat harus memakai container khusus atau container yang dilapisi oleh Stainless Steel. Para importir Jepang mempersyaratkan agar semua ekspor hasil Perikanana ke Jepang disertai sertifikat bebas Vibrio cholera. Demikian pula Amerika Serikat, menginginkan agar semua komoditi pertanian yang masuk ke Amerika Serikat disertai dengan sertifikat sanitasi dan phytosanitary

    Disamping itu, sejak tahun 1997 ini USA Food and Drug Administration telah memberlakukan peraturan yang menyangkut Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), dimana semua pengolah, importir dan eksportir produk-produk pertanian pangan yang akan memasarkan produknya ke Amerika Serikat harus mempunyai atau telah menerapkan sistem jaminan mutu dengan pola HACCP. Hal yang sama juga dilakukan oleh Australian Quarantine and Inspection System  yang mempersyaratkan standar sanitasi dan phitosani


    Posted at 01:26 am by febri78
    Make a comment  

    Management Public Relation

    Potongan Laporan Ceramah Mata Kuliah MMA-IPB (12 November 2002)
    Judul Ceramah  : Public Relation Nestle di Indonesia

    Penceramah      : Brata Hardjasubroto (Head of Public Relation PT. Nestle Indonesia)

     

             Tuntutan konsumen dan persaingan bisnis global menyebabkan perusahaan harus selalu inovatif terhadap produk yang dihasilkan dan harus mampu mengkomunikasikan produk serta program-program pendukung yang dilakukan oleh perusahaan kepada masyarakat terutama kepada konsumen sasaran yang strategis.

             Konsumen akhir merupakan sasaran yang dinamis (mobile) dan cepat berubah.  Semakin lama semakin pandai, terdidik, kritis, dan menuntut.  Setiap pakar perlu mencari cara dan pendekatan baru mencapai konsumen yang dinamis dan berubah.  Keluwesan yang tinggi dan lebih terarah diperlukan guna menghadapi konsumen, sekaligus tanggap terhadap perubahan konsumen, lingkungan politik maupun sosial.  Memikirkan efisiensi yang lebih ketat mengingat anggaran yang makin terbatas maupun peningkatan biaya dari media.

    Guna menyesuaikan dengan perubahan-perubahan dalam pemasaran dan komunikasi bisnis yang terjadi, maka fungsi Management Public Relation (MPR) merupakan kata kunci yang perannya benar-benar diharapkan mampu mendukung bagian-bagian lain yang terdapat di dalam perusahaan terutama bagian produksi dan pemasaran.  

    Thomas L harris, pencetus pertama Management Public Relation (MPR) dalam bukunya The Marketers guide to public relation mendifinisikan MPR sebagai suatu proses perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasiaan program-program yang merangsang pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi mengenai informasi yang dapat dipercaya dan melalui kesan-kesan yang menghubungkan peusahaan dan produksnya sesuai dengan kebutuhan, keinginan, perhatian, dan kepentingan para konsumen (Abadi dkk, 1994).

    Praktik public relation pada prinsipnya adalah suatu kegiatan yang terencana dan suatu usaha yang terus menerus untuk dapat memantapkan dan mengembangkan itikad baik (good will) dan pengertian yang timbal balik (mutual understanding) antara suatu organisasi dengan masyarakat.  Pada era globalisasi ini peran MPR menjadi sangat penting karena itikad baik menjadi suatu bagian dari profesionalisme yang pasti akan terbentuk karena pembentukan simpati konsumen secara efektif sudah merupakan keharusan dimana tingkat kompleksitas dan pemuasan kebutuhan konsumen sudah mencapai tingkat yang sangat canggih dalam kegiatan pengemasan.   MPR penekanannya bukan pada selling (seperti pada kegiatan periklanan), namun peran pemberian informasi, pendidikan dan upaya peningkatan pengertian lewat penambahan pengetahuan mengenai suatu produk/jasa/perusahaan akan lebih kuat dampaknya dan agar lebih  diingat oleh kosnuemn.  Dengan tingkatan komunikasi yang lebih intensif dan konfrehensif bila dibandingkan dengan iklan, maka MPR merupakan suatu konsep yang lebih tinggi dan lengkap dari iklan yang biasa.  Kombinasi antara MPR dan iklan dapat senantiasa dilakukan untuk memperkuat kegiatan penampilan perusahaan.  MPR memberikan penekanan pada aspek manajemen dari pemasaran dalam bentuk suatu produk atau jasa secara profesional dengan memperhatikan kesejahteraan konsumen. 

    MPR dianggap efektif khususnya dalam membangun brand awareness dan brand knowledge, potensial untuk membangun efektivitas pada area increasing category usage dan increasing brand sales dari periklanan.  Untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapai, MPR dari periklanan harus secara strategik bekerjasama serat-eratnya.  MPR dianggap perlu masuk dalam bauran pemasaran (marketing mix)  dan dalam beberapa hal dianggap lebih hemat biaya bila dibandingkan dengan iklan.  MPR semakin penting  semakin penting karena semakin cangihnya teknologi media elektronik dengan alasan: (1) lebih cost-effective dan biaya media yang semakin meningkat, (2) dapat melengkapi iklan secara komplementer (meningkatkan kredibititas dari suatu pesan), dan (3)  dapat dipakai sebagai suatu kegiatan yang etrpercaya serta dapat menembus situasi yang relatif terbatas.

    MPR sangat bermanfaat bagi perusahaan, (1) untuk membangun posisi perusahaan sebagai pemimpin pasar, (2) membangun kepercayaan dan keyakinan konsumen, (3) membangun kembali, meluncurkan kembali, dan reposisi dari produk-produk yang sudah jenuh, (4) membangun komunikasi dan kelebihan-kelebihan manfaat dari produk-produk yang sudah lama, (5) dapat mengikut sertakan karyawan dan masyarakat untuk lebih mengenal produk perusahaan, (6) membangun dan memantapkan perhatian atas suatu katagori produk, (7) membangun pasar baru dan pasar yang lemah, (8) mengembangkan jangkauan iklan, (9) mengatasi resistensi dari konsumen terhadap iklan, (10) membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkiatan dengan masalah keuangan yang ada kaitannya negan pemasaran, (11) membangun berita yang positif sebelum kegiatan periklanan diadakan, membuat iklan menjadi lebih berharga pesan-pesannya, (12) memberikan suplementasi terhadap kegiatan iklan dengan mengkomuikasikan manfaat produk, (13) menyampaikan cerita mengenai produk dalam bentukyang lebih mendalam, (14) menambah eksposure dari produk-produk yang tidak dapat diiklankan kepada konsumen, (15) dapat mempengaruhi opinion leaders, (16) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kampanye dari sales promotion,  mengindentifikasikan perusahaan dan produk dengan perbedaan etnik yang ada, meningktkan brand awarness melalui sponsorship, (17) memberikan interpretasi yang tepat terhadap dampak dari issue yang bersifat emerging di pasar, (18) mengkomunikasikan keputusan pemasaran sesuai dengan perhatian publik, dan (19) membantu mengatasi masalah produk yang sedang dalam resiko, mengairahkan bantuan dari para pengecer (Abadi dkk, 1994).

    Masalah yang sering dihadapi dalam MPR adalah relatif sulitnya melakukan penilaian/evaluasi, belum dipahami sepenuhya manfaat MPR oleh manajemen serta belum sepenuhnya dukungan dapat diharapkan dari manajemen. 

    Kegiatan Public Relation (PR) merupakan implementasi dari fungsi MPR. Di abad masyarakat informasi seperti ini, PR merupakan posisi yang strategis karena berperan besar dalam menentukan kelangsungan hidup perusahaan.  Posisi PR membutuhkan penghayatan psikologi massa yang melibatkan variabel sosial, ekonomi, politik, dan budaya serta hubungan yang baik dengan media.  Dalam masyarakat yang well-inform, arus informasi akan mengalir dengan cepat dan melahirkan sikap dan perilaku customer maupun non-customer yang dapat mengguntungkan atau merugikan perusahaan. 

    Abadi, dkk (1994) menyatakan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh PR adalah mencapai khalayak sasaran (target audience) khususnya dengan pesan yang khusus pula, mempersiapakan suatu segmen spasar, memberikan keterangan-keterangan, demonstrasi dan menumbuhkan keyakinan kepada pemuka agama, pemuka masyarakat.  PR juga dapat mengudang para distributor dan retailer dengan maksud yang sama dan melakukan suatu upacara peluncuran produk disertai dengan konfrensi pers. Keterlibatan PR dalam proyek sosial, melalui jalur pendidikan, memperkuat kampanye periklanan, dan komunikasi dalam keadaan krisis merupakan alternatif usaha PR dalam melaksankan fungsi strategisnya.

    Aktivitas PR lainnya yang juga sangat penting adalah dalam manajemen isu yaitu bagaimana agar isu tidak berkembang menjadi krisis dan untuk mepertahankan citra positif perusahaan.  Isu merupakan suatu percobaan atau kejadian yang mungkin akan menjadi sumber kekacauan di masa depan.  Model manajemen isu diawali dengan tindakan mengidentifikasi isu dan menganalisisnya.  Kemudian menentukan strategi perubahan, menyusun program perubahan serta melakukan monitoring pelaksanaan program dan evaluasi. 

    Aktivitas PR dalam manajemen krisis terutama berkaitan dengan reassurance, meyakinkan bahwa tindakan yang benar dan cepat telah dilakukan.  Hal lain yang sangat penting adalah pemberian informasi dengan mengemukan yang kebenaran dan apa adanya, serta untuk memperbaiki citra perusahaan.

    Langkah-langkah PR dalam menghadapi situasi krisis adalah dengan Research, Action, Communication, dan Evaluation (R-A-C-E formula), yaitu kategorisasi perusahaan dan katagorisasi publik.  Research yang dimaksud adalah menemukan dan mengkomunikasikan kebenaran berupa data dan fakta.  Action adalah apa yang ditangani untuk menyelesaikan suatu masalah.  Dalam manajemen krisis, action lebih penting daripada communication.

    Communication sebagai inti dari aktivitas PR, mengkaitkan perusahaan dengan lingkungannya.  Komunikasi menekankan pada waktu dan kecepatan dalam menyelesaikan masalah.  Komunikasi meliputi tindakan-tindakan penentuan kelompok sasaran (target group) dan aktivitas-aktivitas PR itu sendiri.  The nature of the crisis merupakan panduan utama dalam menetapkan strategi dalam aktivitas PR.   Pemahaman mengenai PR merupakan hal penting karena menjadi panduan dalam penyususnan pesan dan menentukan media yang akan digunakan. 

    Evaluation dilakukan untuk menelaah apakah aktivitas PR telah mengubah opini negatif dan mengembalikan kepercayaan masyarakat.  Efektivitas program komunikasi melalui PR dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti environmental monitoring, public relation audit, dan social audit.  Katagorisasi perusahaan merupakan lagkah untuk mengidentifikasikan kerentanan perusahaan terhadap isu dan krisis.  (Susanto, 1997).

     


    Bahan Bacaan

    Abadi, Miranti A, dkk.  1994.   Marketing Public Relation. Publikasi Lembaga

           Manajemen FE UI.   Jakarta.

    Hardjasubroto.  2002.  Public Relation Nestle di Indonesia.  Makalah

            disampaikan pada ceramah mata kuliah tanggal 12 November 2002 di Magister 

            Manajemen Agribisnis-IPB. 

    Susanto, AB.  1997. Gerbang Pemasaran; Manajemen dan Persaingan Bisnis.  Jilid 2. 

           PT. Elex Media Computindo.  Jakarta.


    Posted at 01:10 am by febri78
    Make a comment  

    Strategi Bisnis Eceran ; Suatu Pengalaman

    Potongan Laporan Ceramah Mata Kuliah MMA-IPB 3 Agustus 2002
    Judul               : Strategi Bisnis Eceran ; Suatu Pengalaman

    Penceramah       : Anto Lukmanto (Direktur PT. Hero Supermarket, Tbk.)

     

    Sekilas Hero Supermarket

           Berawal dari usaha kaki lima kemudian menjadi bisnis keluarga yang lebih besar, akhirnya berdirilah Hero Mini Supermarket pada 15 Agustus 1971 yang pada

    perkembangannya menjadi Hero Supermarket Tbk.  Hingga September 2001 telah terdapat 82 gerai Hero di seluruh Indonesia dengan diversifikasi ke usaha  eceran lain seperti toko perawatan pribadi Shop in, Department store mainana anak-nakan Toys City, Mega Super Grosir, Start Mart, Mitra Toko Discount, dan Guardian.

    Tiga falsafah dasar Hero dalam menjalankan bisnis ecerannya adalah; (1) selalu mengutamakan service yang terbaik kepada pelanggan, (2) selalu menyediakan produk yang bermutu tinggi, dan (3) bersama-sama menciptakan kesatuan manajemen yang sempurna dan kesejahteraan bagi para karyawan.  Selain bertekd menyediakan bahan pangan yang baik dan sehat bagi masyarakat, Hero juga membuka kesempatan kerja yang cukup luas seiring dengan perkembangannya

    Pembahasan :

    Struktur Pokok Dalam Bisnis Eceran

           Terdapat 3 struktur pokok yang menentukan keberhasilan bisnis eceran yaitu;

    1.        Merchandising yang meliputi segala aktivitas yang berhubungan dengan arus barang sejak barang dipesan sampai diterima pembeli dengan aman. 

    2.       Pemasaran/Marketing

    Kiat untuk menguasai pasar dalam bisnis eceran adalah dengan mengkombinasikan 4R yaitu; right product, right place, right price dan right time.  Serta ditunjang dengan pelayanan yang baik dan memuaskan pelanggan. 

    3.       Kemitraan Usaha

    Kemitraan usaha antara pengusaha pengecer besar dan pengusaha pengecer kecil diharapkan dapat menguntungkan masing-masing pihak dengan terus mempertimbangkan profesionalitas dan proporsional hubungan keduanya sehingga pola kemitraan tetap pertimbangan jenis barang, kualitas, harga, pemasaran dan produksi yang berkelanjutan sesuai kebutuhan masyarakat


             Hero sebagai pioneer bisnis eceran di Indonesia yang terus mengalami perkembangan pesat merupakan sebuah contoh bisnis eceran yang memiliki strategi-strategi jitu dalam usaha menembuh pasar dan persaingan pesat dalam bisnis ini.  Hero mengambil beberapa kebijakan dalam mendisain strategi bisnis ecerannya

    1.      Keputusan pasar sasaran (Target Market Decision) yaitu dengan memusatkan perhatian pada pembeli dari kalangan menengah ke atas.  Dengan operasional yang relatif besar, biaya rendah, volume tinggi, operasi swalayan dirancang untuk melayani semua kebutuhan konsumen sehari-hari (convinience goods) seperti makanan, produk perawatan rumah, dan barang-barang konsumsi lainnya.

     

    2.       Pilihan produk dan keputusan pelayanan (Product Assortment and Service Decision)

    Hero menjual merek nasional yang ekslusif, secara kontinue mengganti barang-barang yang telah terjual, dan menjual produk dengan merek sendiri (house brand).  Hero berusaha memperkuat posisinya sebagai supermarket yang menyediakan produk segar dengan gerai yang memberikan kenyamanan.  Posisioning Think Fresh from Hero menciptakan mind share konsumen bahwa Hero identik dengan produk segar.

     

    3.       Keputusan Harga (Price Decision)

    Hero menetapkan harga rendah untuk menarik konsumen pada beberapa jenis produk dan melakukan obral pada waktu-waktu tertentu.  Tetapi dilain pihak agar keuntungan tetap terjaga dilakukan peningkatan harga pada barang-barang tertentu sebagai usaha subsidi silang.  Hero juga melakukan diskon dan mengkomunikasikan harga pada konsumen melalui daftar harga mingguan yang diedarkan di rumah-rumah, pusat belanja, dan media promosi yang digunanakannya.

     

    4.       Keputusan Promosi (Promotion Decision)

    Strategi promosi Hero kurang menonjol dan memilih bermain aman, tercermin dari pengeluaran iklannya pada tahun 2000 hanya sebesar Rp 929 juta untuk promosi di televisi, sebaliknya di media cetak yang sering diisi dengan katalog harga sebesar Rp 7,04 Milyar.  Bentuk promosi lainnya dalam bentuk event yang bekerjasama dengan pihak lain dan dengan mengeluarkan harga promosi minguan di gerainya.

     

    5.       Keputusan Tempat (Place Decision)

          Hero melakukan evaluasi tempat dengan mengadakan relayout desain gerai dan relokasi gerai  yang kurang berkembang dan menambah gerai baru di tempat yang dianggap potensial.  Hero juga mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan politik di daerah tujuan pasarnya sehingga pendirian gerai di beberapa daerah konflik di tunda.

     

    Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa ada dua fakta yang mendorong orang berbelanja di sebuah toko, pertama kelengkapan barang-secara naluriah pembeli lebih senang punya banyak pilihan barang yang bervariasi, kedua harga-semakin rendah harga barang semakin mudah mengundang pembeli.  Kedua faktor inilah yang dipadukan oleh hypermarket sehingga mereka berhasil memenangkan persaingan.  Secara umum hypermarket cukup sukses melakukan negosiasi saling menguntungkan dengan para produsen dan distributor.  Bila supermarket sebelumnya menikmati margin laba tinggi dengan mendikte produsen membayar tempat penjualannya (display price), maka hypermarket melakukan hal unik yakni memperoleh potongan harga (discount strategy) dari hasil penjulaan dan proses pembelian langsung.  Implikasi dari hadirnya hypermarket adalah semakin kaburnya konsep penjualan yang sifatnya grosir dan eceran, berkembangnya ruang penjualan yang luas (large selling space), dan perubahan harga (price strategy) yang sangat cepat.  Hal ini yang kemudian memicu persaingan harga berkepanjangan (www.swanet.com).

    Strategi hero dalam menghadapi hypermarket besar adalah dengan membuat hypermarket baru dan untuk itu Hero akan bekerjasama dengan ritel asing membangun Giant Hypermarket dengan ukuran 6-7 kali supermarket biasa dengan harapan dapat membidik pasar yang lebih luas khususnya untuk daerah Jabotabek dan sekitarnya.

    Walau ada pergeseran paradigma ritel dari skala kecil ke besar kenyataannya, baik ritel kecil maupun besar seperti mal tetap eksis. Bahkan, mal berkembang menjadi megamal atau supermal. Di tengah makin kompleksnya dunia ritel yang beragam bentuknya, perusahaan ritel yang telah menjadi multistore multichannel harus tetap memberikan nilai tambah bagi pemegang sahamnya.

    Penelitian Accenture terhadap 63 ritel global menunjukkan sejak 1991, kurang dari 20% mampu menciptakan pertumbuhan pendapatan yang mengagumkan dan nilai return bagi pemegang saham. Dari angka tersebut, tercermin adanya empat kelompok peritel yang terdiri atas: low growth value creator, high growth value creator, empty growth retailer dan stagnant retailer.  Para peritel ini, dalam golongan manapun sangat ditekankan bertumbuh tanpa berekspansi geografis ataupun akuisisi.

    Dalam konteks disini, konsep Scientific Retailing (SR) diharapkan dapat memberi pencerahan penciptaan nilai baru.  Berintikan pendekatan B2B, yaitu Back to Basic (bukan Business to Business), SR mirip kegiatan ilmiah yang mencampurkan beberapa elemen operasional dengan bantuan teknologi. Menggunakan konsep ini, diharapkan peritel dapat memacu pertumbuhan lewat peningkatan efisiensi operasional sehari-hari, ketimbang menambah jumlah toko. Selain itu, peritel diharapkan dapat mengelola bisnis besar, dan tumbuh dengan pengetahuan yang dimiliki pemilik jenis Mom & Pop atau warung.

    Ada empat hal fokus utama dalam bisnis eceran. Yaitu, pelanggan, merchandising, rantai persediaan, dan logistik. Dengan menggunakan engine (penggerak), program ini diharapkan memberi masukan berharga tentang pelanggan, produk, harga, promosi dan ragamnya. Sebab, banyaknya informasi yang diperoleh, memberi kesempatan peritel membuat keputusan langsung di tingkat lokasi toko, pelanggan, dan stock keeping unit.  Keputusan-keputusan tersebut diharapkan mampu memperbaiki inventory turnover, meningkatkan margin, mendorong penjualan, dan apresiasi nilai saham. 

    Hero telah berkonsentrasi pada hal-hal tersebut diatas: (1) Pelanggan: bagaimana memelihara kontak dengan pelanggan. (2) Merchandising: bagaimana menentukan ketepatan harga, menggunakan iklan berdasarkan fakta (bukan impian), mengoptimalkan tempat dan keragaman. (3) Rantai persediaan: mengevaluasi sumber produk yang strategis, membina hubungan kemitraan dengan vendor, melakukan perencanaan terpadu dan studi kelayakan.  Cara-cara menghemat yang tetap mampu memberi layanan terbaik. Dengan lebih memperhatikan B2B, diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan signifikan, dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham (Sidarto, 2002).

    Keunggulan Hero dalam bisnis eceran adalah pada sistem informasi yang dimiliki, konsentrasi Hero yang tinggi terhadap karyawan terlihat dengan jumlah pembayaran gaji yang dikaui lebih tinggi dibandingkan dengan yang dibayarkan retail lain, kenyamanan berbelanja, kemitraan yang handal dimana Hero berusaha memegang kepercayaan produsen untuk memasarkan hanya 1 merek produk, Hero memiliki beberapa produk dengan merek sendiri (house brand), kemampuan hero menambah terus display board nya dan cross subsidi untuk menurunkan harga produk yang ditawarkan.  Jika terdapat perbedaan harga antara label yang tertera pada produk dengan daftar harga yang terdapat pada kasir, maka Hero akan memberikan harga yang lebih rendah.  Dengan strategi yang digunakan Hero sudah berhasil menjalankan perannya dalam bisnis eceran yaitu sebagai intermediari/perantara serta sebagai penghubung (komunikator) antara produsen, pedagang besar, pemasok lainnya dan konsumen.  Hero juga telah memberikan keuntungan bagi produsen dan masyarakat dengan adanya perputaran barang dan uang.  Sayangnya keberadaan peran Hero selama ini belum memberikan dampak bagi lapisan masyarakat kecil dan daerah konflik karena Hero tidak berani mengambil resiko mendirikan gerai pada daerah yang memiliki konflik namun justru membutuhkan bahan pangan yang cukup mendesak. 


    Bahan Bacaan

    Berman, Berry dan JR Evans.  1998.  Retail Management.  Prentice Hall. Inc.  New

    Jersey.

    Kotler, Philip.  1997.  Manajemen Pemasaran; Analisis, Perencanaan, Implementasi,

    dan Kontrol.  Terjemahan.  PT Prenhallindo.  Jakarta.

    Lukmanto, A.  2002.  Strategi Bisnis Eceran ; Suatu Pengalaman.  Makalah

    disampaikan pada ceramah mata kuliah tanggal 3 Agustus 2002 di Magister

    Manajemen Agribisnis-IPB.  13 hlm.

    Sidarto, J.  2002.  Tantangan Bisnis Ritel, Tingkatkan Nilai pemegang.  Artikel

    dimuat pada rubrik KOLOM swanet.com.  

    www.hero.co.id

    www.swanet.com

    Posted at 12:56 am by febri78
    Make a comment  

    Entrepreneur Development

     

    Potongan Ceramah Mata Kuliah MMA-IPB 20 Agustus 2002

    Judul                                : Entrepreneur Development

    Penceramah                       : Juan Permata Adoe (Direktur Kibif)

                

    Dalam memulai sebuah kewirausahaan, hal pertama yang mesti dimiliki adalah jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Dalam kamus Webster disebutkan bahwa entrepeneur adalah one who organizes, manages, and assumed the risk of a business or enterprises (seseorang yang mampu mengorganisasikan, mengelola dan juga mengambil resiko atas suatu bisnis atau perusahaan), sedang Meredith dalam Soesarsono (1996) menyebutkan, bahwa entrepeneur adalah individu yang berorientasi pada tindakan dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam mengejar tujuannya.  Pengertian entrepreneurship mencakup sikap mental mengambil resiko dalam pengorganisasian dan pengelolaan suatu bisnis yang berarti juga suatu keberanian untuk membuka bisnis baru (Soesarsono, 1996).

    Memulai suatu bisnis diperlukan adanya sikap mental yang berani mengambil resiko dan dengan motivasi tinggi serta memiliki kemampuan dalam mengorganisasikan dan mengelola sebuah bisnis, disinilah pentingan membangun jiwa kewirausaan (enterpreneur development).  Dalam pengembangan kewirausahaan terutama agribisnis ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang wirausahwan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan rencana dan pengambilan keputusan yaitu;

     

    1.       Pemetaan Potensi Sumber Daya Alam

    Setiap daerah memiliki potensi alam yang berbeda-beda sesuai dengan geografisnya masing-masing. Iklim sebagai faktor lingkungan yng mempengaruhi tanaman pertanian, juga dapat menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, Adat istiadat juga merupakan elemen yang perlu diperhatikan.  Untuk memudahkan data dapat diminta kepada pemerintah daerah melalui instansi terkait atau bekerjasama dengan peneliti di lembaga-lembaga pendidikan tinggi untuk dapat menampilkan keberadaan daerah dengan segenap pemetaan keadaan alam dan potensi yang dikandung oleh daerah yang bersangkutan secara lengkap. 

     

    2.       Inventarisasi Sumber Daya Manusia

    Faktor yang tidak dapat dihindari dalam memulai sebuah usaha adalah kemampuan managerial, teknik, etos kerja dan moral (etika bisnis).

    Kemampuan Managerial, dengan memahami dan menguasainya orang akan dipacu untuk berusaha secara cerdas, artinya bukan semata-mata mengandalkan fisik tetapi ia juga memberdayakan potensi otaknya untuk mengolah, memproses dan melakukan karya usaha yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat disekitarnya.

    Teknik (Technical skill), lebih menyangkut bagaimana pekerjaan dilakukan secara operasional sehingga seseorang dapat memimpin jalannya sebuah usaha mulai dari yang bersifat mikro hingga makro. Dengan itu pula seorang wirausawan tidak begitu tergantung kepada orang lain, walaupun sesungguhnya saling ketergantungan itu diperlukan dalam membangun usaha, utamanya dalam hubungan dengan pihak luar usaha bersangkutan.

    Etos kerja, diperlukan agar seorang wirausawan memiliki ketangguhan dan keuletan dalam berusaha. Etos kerja juga akan membangun suatu budaya kerja, dimana orang akan mengerti apa yang harus dikerjakan dan apa yang mesti diabaikan. Budaya kerja yang berorientasi global akan menghasilkan suatu kontribusi positif kepada perkembangan usaha dan efektivitas dalam bidang bisnis.

    Moral (etika bisnis), yaitu dimana orang akan menyadari batas-batas hak dan kewajibannya dalam berusaha. Hal ini penting agar iklim usaha yang dikembangkan terhindari dari hal-hal yang berbau penghisapan atau penindasan terhadap bawahan secara sewenang-wenang dan tidak manusiawi dan penyadaran bahwa apa yang dilakukannya dapat berdampak yang luas kepada orang lain/masyarakat.

     

    3.       Kelembagaan

    Bagaimanapun kecilnya sebuah usaha, diperlukan sebuah lembaga untuk berhimpun dan berpayung. Dengan memiliki sebuah kelembagaan atau badan usaha, akan memberikan keyakinan pada pihak konsumen dan atau pihak lain yang memiliki usaha sejenis atau berlainan. Untuk tahap awal, tentu saja belum diperlukan suatu badan usaha seperti : PT atau CV, yang skala dan volume kerjanya sudah sangat besar. Tetapi dapat saja ditempuh dengan membentuk suatu badan kecil yang memiliki beberapa orang anggota.

    Kemudian pada tataran berikutnya, kelembagaan ini dikembangkan menjadi suatu lembaga yang lebih permanen, dimana ruang gerak usaha telah bertambah luas, volume produksi yang semakin besar, dan memiliki mitra kerja dengan lembaga atau badan yang lain.  Seiring dengan kepemilikan suatu lembaga, tentu saja diperlukan suatu iklim kerja dan sistem kerja yang terpola dan terencana sebagaimana layaknya sebuah kerja profesional, yang dibangun di atas kemampuan managerial dan profesional dengan mengedepankan kualitas produk yang dihasilkan.

     

    4.       Net Working (Jaringan)

    Jaringan kerja bagi sebuah usaha sangat diperlukan manakala suatu usaha akan dikembangkan dalam skala dan volume yang lebih besar, baik menyangkut modal usaha, personil, skill, dan peluang membuka usaha agribisnis yang baru. Jaringan kelembagaan biasanya dibangun melalui suatu komunikasi yang bersifat interpersonal, antarpersonal, dan atau komunikasi antar kelembagaan dalam skala yang lebih makro. Namun yang penting membangun jaringan dalam komunikasi ini adalah dalam rangka upaya bargaining power untuk mencari perluasan jaringan, pemasaran, perluasan investasi dan atau perluasan kemitraan kerja sama (Ishartanto, 1999)

    Keunggulan usaha juga akan terlihat lebih nyata dalam penguasaan pasar. Pasar menjadi penentu maju atau mundurnya usaha yang kita rintis. Apabila produk usaha kita tidak laku di pasar, maka usaha kita akan mengalami kebangkrutan. Produk usaha yang dihasilkan harus dapat dan mampu bersaing di pasar, baik dilihat dari kemasan, mutu, atau kualitas dan hal lain yang terkait dengan pangsa pasar dan selera konsumen.

     

    5.       Pendanaan

    Pengalaman menunjukkan bahwa untuk memulai suatu usaha selalu terbentur pada aspek pendanaan, dan ada yang nyaris tidak dapat berbuat apa-apa tanpa memiliki dana segar, namun demikian hendaknya sekalipun ketergantungan terhadap dana segar ini ada, namun kerja cerdas tetap harus dikedepankan, agar selain dana dapat diberdayakan secara optimal juga dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencana, hal ini dapat terwujud manakala kita benar-benar bertolak dari kemampuan managerial, komunikasi/bargaining power.

    Modal bukan hanya berupa uang namun  modal juga dapat dikaitkan dengan usaha dan upaya. Kemampuan berpikir, kesempatan pendidikan dan pengalaman adalah merupakan modal yang tidak ternilai harganya. Dengan kemampuan berpikir dapat dihasilkan gagasan-gagasanuntuk dapat menghasilkan uang segar (fresh money).

    Bila kita perhatikan dari uraian di atas kelihatan bahwa semuanya begitu mudah, namun perlu dingat dalam memulai atau menjalankan sebuah usaha selalu pasti ada hambatannya, dalam melakukan pemetaan sumber daya alam, kadang terjadi kesulitan untuk mencari data mengenai potensi yang ada pada suatu daerah dan keadaan masyarakatnya(adat istiadat) serta iklim yang tentunya juga berpengaruh besar. Bagi orang yang tidak mempunyai kemauan yang kuat, daya inisiatif serta motivasi yang tinggi tentunya akan cepat menyerah namun bagi mereka yang mempunyai kemauan yang tinggi tentu akan berusaha mencari jalan keluar yang lain, begitu pula dalam inventarisasi sumber daya manusia yang dimiliki, misalnya seseorang tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan atau kemampuannya tidak mencukupi, maka hal ini dapat diatasi dengan berusaha belajar karena potensi tersebut dapat dipelajari dan dapat dikembangkan. Untuk melakukan ini semua dibutuhkan kemauan yang kuat serta motivasi yang tinggi.

    Hal lain yang merupakan penunjang kesuksesan adalah kecekatan dan kecepatan dalam melihat peluang yang ada dan segera mengambil peluang tersebut. Banyak orang sering tertinggal atau kalah cepat bertindak karena terlalu lama berpikir atau terlalu banyak berteori. Sebaliknya para pengusaha yang berhasil umumnya tanggap, berpikir praktis dan cepat mengambil keputusan untuk bertindak.

     

    6.  Sumberdaya Manusia

    Kelemahan sumberdaya manusia Indonesia dalam kewirausahaan berkaitan dengan kemampuan mengambil inisiatif tindakan dalam organisasi sehingga suatu rencana tindakan hanya dipikir-pikir terus dan tidak dilakukan.  Hal ini jelas membuat organisasi terombang-ambing padahal dalam praktik bisnis eksekusi sangat penting dalam memberikan data dan fakta menngenai kualitas keputusan yang diambil, untuk mengatasi hal ini maka dari sisi mikro organisasi dapat dilakukan pemberdayaan manajemen/professional development program dan sistem pendidikan yang diperbaiki.

    Ada hal yang selalu dihadapi oleh seorang wirausahwan, pertama obstacle (hambatan), kedua hardship (kesulitan) dan ketiga very rewarding life (imbalan atau hasil bagi kehidupan yang memukau)

    Kewirausahaan dalam batas tertentu adalah milik semua orang karena pertama, setiap orang memiliki cita-cita, mimpi atau sekurang-kurangnya harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.  Ini merupakan intuisi yang berkaitan dengan potensi imajinasi kreatif manusia sehingga mendorong manusia normal untuk bekerja dan berusaha.  Kedua, yang membuat kewirausahaan itu sebenarnya semua orang karena hal itu bisa dipelajari.  Peter F. Ducker menulis dalam innovation and Entepreneurship bahwa setiap orang yang memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dapat belajar menjadi wirausaha, dan berperilaku seperti wirausaha.  Sebab wirausaha lebih merupakan perilaku daripada gejala kepribadian yang dasarnya terletak pada konsep dan teori bukan intuisi.  Perilaku, konsep, dan teori merupakan hal yang dapat dipelajari oleh siapa saja, belajar berwirausaha dapat dilakukan oleh siapa saja, meskipun tidak harus menjadi wirausaha besar.

    Ketiga, fakta menunjukan bahwa wirausaha yang paling berhasil sekalipun pada dasarnya adalah manusia biasa, keempat kiat-kiat sukses yang diberikan para wirausahawan sukses sangatlah sederhana yaitu;

    1.          Digerakan oleh ide dan impian

    2.         Lebih mengandalkan kreatifitas

    3.         Menunjukan keberanian

    4.         Percaya pada hoki, tetapi lebih percaya pada usaha nyata

    5.         Melihat masalah sebagai peluang

    6.         Memilih usaha sesuai hobi dan minat

    7.         Mulai dengan modal seadanya

    8.         Senang mencoba hal baru

    9.         Selalu bangkit dari kegagalan

    10.      Dan tidak mengandalkan gelar akademis.

           Alasan kelima adalah karena kewirausahaan mengarahkan orang kepada kepemimpinan.  Menurut Anugerah Pekerti, mantan Dirktur Utama Lembaga Manajemen PPM, kewirausahaan merupakan tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif, dan inovatif.  Sedangkan Howard H. Stevenson, mantan Presiden Harvard Business School mendifinisikan kewirausaan sebagai suatu pola tingkah laku manajerial yang terpadu dalam upaya pemanfaatan peluang-peluang yang tersedia tanpa mengabaikan sumber daya yang dimilikinya.

                Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah Enterpreneur di awal abad ke-18, mengatakan bahwa wirausaha adalah inovator produksi sedangkan William H Sahlam menggambarkan wirausaha sebagai seorang peniru.  Jose Carlos Jarillo-Mossi mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang merasakan adanya peluang, mengejar peluang-peluang yang sesuai dengan situasi dirinya, dan percaya bahwa kesuksesan merupakan suatu hal yang dapat dicapai.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa agar suatu bisnis mencapai keberhasilan diperlukan adanya kemauan yang kuat untuk berusaha, motivasi yang tinggi, dan mental baja (tidak mudah menyerah) serta kecekatan dan kecepatan dalam dalam melakukan tindakan-tindakan.

     

    Bahan Bacaan

    Harefa, A.  2002.  Inovasi-Kewirausahaan; Kewirausahaan, untuk Semua Orang?

                Artikel dimuat dalam http://bdg.centrin.net.id/~fmunjadi/doc_4.htm

    Permata A, J.  2002. Entrepreneur Development. Makalah disampaikan pada ceramah

    mata kuliah tanggal 20 Agustus 2002 di Magister Manajemen Agribisnis-IPB. 

    8 hlm.

    Soesarsono. 1996. Pengantar Kewiraswastaan, Bagian I (Sikap Mental Wiraswasta).

    Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.

    Websters (kamus). 1967. Websters Seventh New Collegiate Dictionary, Philliphines

    Copyright. G and C Merriam Company Publ. Massachusetts, USA


    Posted at 12:41 am by febri78
    Make a comment  

    Next Page

       

    << October 2020 >>
    Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
     01 02 03
    04 05 06 07 08 09 10
    11 12 13 14 15 16 17
    18 19 20 21 22 23 24
    25 26 27 28 29 30 31


    <Mawar Pertama :
    Ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengampuni orang yang beristigfar, Maha Pemberi taubat atas siapa saja yang bertaubat, dan menerima orang yang kembali kepada-Nya.

    Mawar Kedua :
    Cintailah orang-orang yang lemah, pasti kau mendapat kebahagiaan. Berilah kepada orang-orang yang membutuhkan, pasti kau mendapatkan kepuasan. Dan tahanklah marahmu, pasti kau mendapat kemaafan.

    Mawar Ketiga:
    Bersikaplah optimis, karena Allah selalu bersamamu, para malaikat selalu memohon ampunan untukmu, dan syurga pun selalu menantimu.

    Mawar Keempat:
    Hapuslah air matamu dengan berprasangka baik kepadaNya. Buanglah segala penderitaan dan kesedihanmu dengan mengingat segala nikmat Allah kepadamu.

    Mawar Kelima:
    Jangan sekali-kali beranggapan bahwa dunia ini sempurna atas diri seseorang, karena tidak seorangpun di dunia ini yang bisa meraih segala yang diinginkan, dan tidak ada seseorang yang terbebas dari kekurangan sedikitpun.

    Mawar Keenam:
    Jadilah seperti pohon kurma yang memiliki kemauan keras dan jauh dari gangguan. Bila ia dilempar dengan batu, ia justru menjatuhkan buahnya yang segar.

    Mawar Ketujuh:
    Pernahkan kau mendengar bahwa sesungguhnya kesedihan itu dapat mengembalikan kenangan di masa lalu, dan sesungguhnya kegelisahan itu dapat membenarkan kesalahan. Maka dari itu, mengapa kau harus bersedih dan merasa gelisaj.

    Mawar Kedelapan:
    Jangan mengharapkan datangnya ujian dan fitnah, tapi berharaplah datangnya ketentraman, keselamatan, dan kesehatan dengan izin Allah.

    Mawar Kesembilan :
    Padamkanlah api kebencian dari dadamu dengan memberi maaf kepada setiap orang yang berbuat jahat kepadamu.

    Mawar Kesepuluh :
    Mandi, berwudhu, memakai wewangian, dan bersiwak dengan teratur, merupakan obat mujarab untuk mengatasi kepenatan dan kesempitan.

    (Dari Buku Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia. Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni.M.A)

    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed